AGENDA BUDAYA SLEMAN : Yayasan Danurweda Gelar Kirab Pusaka "Kanjeng Kyai Sinjang Kertas"

29 Mei 2016 23:20 WIB Sleman Share :

Agenda budaya Sleman berupa Kirab Pusaka "Kanjeng Kyai Sinjang Kertas" digelar oleh Yayasan Danurweda

 

Harianjogja.com, SLEMAN- Warga Purwomartani, Kalasan menggelar kirap pusaka 'Kanjeng Kyai Sinjang Kertas', Minggu (29/5/2016). Dalam kegiatan tersebut warga juga meresmikan Yayasan Danurweda.

Kirab tersebut diiringi barisan Bergodo Bathok Bolu Alas Ketonggo Purwomartani. Kegiatan yang digelar di Pendopo Jiwangga Spiritual Restort itu merupakan bagian dari festival pengembangan desa dan kantor budaya Purwomartani. Peresmian yayasan sendiri dilakukan oleh Camat Kalasan Samsul Bakri ditandai dengan pemukulan kenthongan.

Ketua Yayasan Danurweda, Dayu Handoko mengatakan, yayasan tersebut didirikan sejumlah pecinta budaya dari Semarang, Solo, Jogja hingga Jakarta.

"Yayasan ini berdiri tujuan utamanya untuk uri-uri kebudayaan, seni dan sejarah. Yayasan ini terbuka untuk umum. Termasuk pelajar dan mahasiswa," katanya di sela-sela kegiatan.

Menurut Dayu, aktivitas yayasan tersebut juga akan secara massif mengajak masyarakat untuk kembali mencintai budaya. Mulai dari karawitan, tari, macapat hingga ketoprak. Jika libur sekolah, siswa biasanya mengikuti semacam pesantren kilat.

"Di yayasan ini, mereka akan diajak nyantrek budaya. Waktunya menyesuaikan dengan peserta," katanya.

Selama nyantrek, lanjut Dayu, mereka akan diberikan pendidikan karakter yang tentunya berbasis budaya. Dia tidak menampik munculnya kekhawatiran sebagian masyarakat jika kegiatan yang berbasis budaya itu akani dihubungkan dengan klenik. Hasil dari belajar budaya, katanya, tidak dapat dilihat 10-20 tahun mendatang. "Kami berharap masyarakat tetap mencintai kebudayaannya di tengah-tengah gempuran arus modernisasi asing. Masyarakat perlu mencintai kebudayaan itu sendiri," urainya.

Dalam kegiatan ini juga diadakan pameran pusaka. Mulai dari tombak hingga keris oleh Rekomendasi Sosial Tosan Aji (RSTA) Korwil DIY. Selain itu, para pengunjung juga disuguhkan atraksi kesenian tradisional seperti ketoprak dan jathilan.

Kepala Desa Purwomartani Tugiran mengatakan, saat ini banyak generasi muda yang mulai melupakan sejarah dan kebudayaan asli. Meski menilai kebudayaan luar tidak sepenuhnya salah, tetapi dia berharap warga tetap dapat mencintai kebudayaan sendiri. "Masing-masing aktivitas kebudayaan mengandung nilai filosofi tinggi dan tentunya sarat makna," katanya.