PERLINDUNGAN SATWA : Kembalikan Lagi Kicau Burung, Desa Pampang Jadi Lokasi Konservasi Burung

31 Mei 2016 02:20 WIB Gunungkidul Share :

Perlindungan satwa diinisiasi warga setempat

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Ratusan burung dengan beraneka jenis dilepaskan oleh sejumlah warga di kawasan desa wisata Pampang, Paliyan. Hal tersebut dilaksanakan dengan perumusan peraturan desa terkait konservasi burung sebagai pendukung desa wisata yang khas dengan kerajinan peraknya tersebut.

(Baca Juga : http://www.harianjogja.com/baca/2015/09/13/perlindungan-satwa-aktivis-satwa-protes-pentas-lumba-lumba-642136">PERLINDUNGAN SATWA : Aktivis Satwa Protes Pentas Lumba-Lumba)

Suara kicauan burung saat ini dirasa sudah tak eksis dalam masyarakat desa. Padahal kicauan burung dinilai dapat menambah suasana asri pedesaan yang tak didapatkan di dalam kota.

Hal tersebut disampaikan oleh penggagas konservasi burung desa Pampang, Mahmud Ariyanto. Ia mengungkapkan bahwa kicauan burung dapat menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke desa wisata.

"Konservasi burung ini sebagai bentuk prihatin karena kicauan burung sudah jarang sekali didengar. Saat ini suara burung hanya berasal dari sangkar yang dipelihara warga," kata dia.

Ia menegaskan konservasi burung tersebut juga upaya menjaga ekosistem lingkungan, menurut dia keberadaan kicauan burung akan menjadikan suasana desa wisata Pampang lebih terasa tentram. Wisatawan akan memberikan penilaian yang baik terhadap desa wisata Pampang. Selain keberadaan burung berkicau, ia juga berharap tata kelola desa dapat diperhatikan lebih jauh lagi agar wisatawan dapat menikmati setiap jengkal desa wisata dengan rasa senang.

"Ke depannya peraturan desa akan dibentuk, termasuk larangan perburuan burung secara liar di kawasan ini, sudah disepakati oleh perangkat desa," pungkasnya.

Sementara itu, camat Paliyan Marwata Hadi mengungkapkan pihaknya mendukung gerakan konservasi burung tersebut. Ia menyayangkan kondisi Paliyan yang masih didominasi hutan tetapi minim dengan keberadaan burung pengicau. Ia pun berharap desa-desa lain dapat mendukung gerakan tersebut meskipun saat ini baru dirintis di desa Pampang saja.

"Nanti akan disosialisasikan kepada desa lainnya terkait larangan perburuan liar di Paliyan, semua ini untuk menjaga keseimbangan ekosistem," kata dia.