Tahun Baru Hijriyah, Warga Kalipucang Tapa Bisu Keliling Dusun

03 Oktober 2016 07:42 WIB Irwan A Syambudi Bantul Share :

Tahun baru Hijriyah diperingati warga Dusun Kalipucang dengan tapa bisu

Harianjogja.com, BANTUL- Dalam rangka peringatan tahun baru Islam yang ke 1438 Hijriah, warga Dusun Kalipucang, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul melakukan tapa bisu mengelilingi dusun. Tapa bisu mengelilingi dusun tersebut adalah sebagai refleksi diri atas semua hal yang telah dialami selama satu tahun sebelumnya.

Di bawah rintik hujan gerimis ratusan warga Dusun Kalipucang berkeliling dusun yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer. Tanpa ada suara, tanpa ada penerangan, mereka berjalan pelan berkeliling kampung. Doa-doa mereka lantunkan di dalam hati, suasanya menjadi hening tatkala hanya ada suara langkah kaki yang mendominasi. Mereka menyebut ritual tersebut dalam bahasa Jawa adalah “Topo Mbisu Mubeng Dusun”.

Sebelumnya hujan gerimis mulai membasahi Dusun Kalipucang sesaat sebelum tapa bisu berkeliling dusun dimulai. Warga mulai berdatangan memenuhi masjid Al-Furqhon di Dusun Kalipucang pada Sabtu (1/10/2016) sore.

Rintik hujan pada sore itu tak mengurangi semangat warga untuk berbondong-bondong ke masjid. Akibat sempitnya masjid, warga bergotong royong memasang tenda di halaman masjid sebagai tempat warga berkumpul dan beribadah.

Saking sempitnya masjid dan halaman, warga sampai memanfaatkan bahu jalan di depan masjid untuk dipasang tenda sebagai tempat ibadah. Ratusan warga yang terdiri dari bapak, ibu dan anak kecil maupun muda-mudi segera menempatkan diri masing-masing.

Bersambung halaman 2

Abdul Syukur, sang takmir masjid kemudian memberikan aba-aba kepada pada warga segera mengisi baris. Salat magrib akan segera dimulai warga segera menempatkan diri. Usai salat magrib berjamaah kemudian dilanjutkan dengan lantunan doa-doa.

Warga mulai bertambah berdatangan. Beberpa waktu kemudian ratusan warga yang telah berkumpul di masjid bergerak, berjalan pelan mengelilingi Dusun Kalipucang.

Abdul Bercerita tapa bisu berkeliling dusun merupakan bentul refleksi untuk memahami makna diri. “Untuk nyawiji marang gusti lan bumi,” ucapnya.

Menurutnya keberadaan bumi selama ini semakin hari semakin tidak baik, Dan hal itu sangat erat kaitanya dengan peran masyarakat. “Jadi selama ini adanya istilah untuk membersihkan bumi itu salah. yang lebih tepat adalah upaya untuk membersihkan diri masing-masing orang. karena kehancuran dan kerusakan bumi itu adalah oleh manusia itu sendiri,” ujar Abdul.

Tapa bisu keliling dusun merupakan upaya refeksi supaya membaca ulang lagi terhadap dusunnya yang semakin mengalami pergeseran alam. Abdul menjelaskan Dusun Kalipucang yang sebelah baratnya merupakan jalur hijau berupa sawah sekarang ini marak dibangun dengan perumahan, atas dasar bermacam kepentingan.

Bersambung halaman 3

Sementara itu kondisi pepohonan yang sebelumnya rindang kini semakin tidak rindang lagi dan cenderung habis ditebangi.

Namun yang paling ironis adalah sebagai dusun pengrajin kranjang bambu atau kreneng, kini bahan baku bambu sudah tidak ada lagi di Dusun Kalipucang, melainkan mengambil dari dusun dan daerah lain. “Harapannya hal tersebut mampu direfleksikan oleh masyarakat,” kata dia.

Selain refleksi terhadap kondisi lingkungan, tapa bisu juga sebagai refleksi diri pribadi. Hasil refeleksi tahun lalu Abdul menilai masyarakat semakin gandrung ke masjid untuk beribadah. Mereka setelah mengikuti tapa bisu dapat lebih kuat membangun rohaninya. Menurutnya dulu jarang orang pergi ke masjid, namun sekarang sudah mulai bertambah.

Lalu dampak secara lingkungan, kini masyarakat telah memanfaatkan kreneng sebagai bentuk kesadaran untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pemakain plastik yang berlebihan. Contonya adalah ketika pembagian hewan kurban, masyarakat mengunakan kreneng sebagai pembungkus daging hewan kurban yang dibagikan ke warga.

Abdul berharap tahun ini masyarakat mampu merefleksikan diri, mengoreksi kesalahan dan mengutakan ibadah dengan datang ke masjid. Selain itu juga tidak hanya ibadah yang kaitanya dengan Tuhan, tetapi ibadah yang berkaitan dengan sosial dan lingkunganya.

Hal yang dapat dipetik menjadi pelajaran tahun ini menurut Abdul adalah adanya salah satu warga Kalipucang yang meninggal akibat minum minuman keras. Dia berharap warga yang lain mampu melihat mengintropeksi diri mereka masing-masing untuk berubah lebih baik di tahun baru ini dengan melihat peristiwa tersebut.

Sementara itu Murtini salah seorang warga yang juga mengikuti topo bisu keliling dusun menyebut bahwa acara tersebut sebagai acara sakral. Dia merasakan setalah mengikuti acara tersebut menjadi lebih mawas diri dan mereas semakin dekat dengan Tuhan. “Meskipun hujan-hujan gerimis tapi tetap senang karena hanya satu tahun sekali,” ujar Murtini yang juga merupakan ketua Rukun Tetanga (RT) 04, Dusun Kalipucang.