DUGAAN MALAPRAKTIK : Keluarga Siap Bongkar Makam Sumarsih

Ilustrasi jenazah korban overdosis obat-obatan (JIBI/Solopos - Dok.)
04 Oktober 2016 23:55 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Dugaan malapraktik di Bantul, keluarga siap jenazah diautopsi

Harianjogja.com, BANTUL - Keluarga korban terduga malapraktik asal Dusun Tulung, Srihardono, Pundong siap membongkar makam almarhumah Sumarsih untuk membuktikan dugaan kejahatan dalam kasus yang melibatkan rumah Sakit (RS) Rachma Husada tersebut.

Yuli Samsidah keluarga almarhumah Sumarsih mengatakan pembongkaran jenazah untuk keperluan autopsi tersebut dapat membuktikan bahwa korban benar-benar mengalami malapraktik bukan meninggal secara wajar.

“Kami sudah siap kalau dibongkar,” ungkap Yuli Samsidah ditemui media ini Selasa (4/10/2016).

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/09/01/dugaan-malapraktik-polda-diy-periksa-petugas-medis-rachma-husada-749388">DUGAAN MALAPRAKTIK : Polda DIY Periksa Petugas Medis Rachma Husada)

Sumarsih merupakan keponakan Yuli Samsidah yang meninggal dunia saat dirawat di RS Rachma Husada pada Mei lalu. Kematian korban menyisakan berbagai kejanggalan adanya dugaan malapraktik dalam kasus ini. Menurut Yuli, pembongkaran makam korban dapat memuluskan penyidikan polisi mengusut kasus dugaan malapraktik tersebut.

“Kalau diautopsi pasti kelihatan dia meninggal karena apa, kami siap kalau diminta polisi,” papar dia.

Yuli Samsidah sebelumnya melaporkan keponakannya Sumarsih yang diduga menjadi korban malapraktik dokter di RS Rahma Husada pada 11 Mei lalu lantaran kematiannya tidak lazim. Ibu dua anak itu dinyatakan meninggal dunia oleh dokter RS Rahma Husada pada 11 Mei lalu. Padahal sekitar sejam sebelumnya, korban mengirim pesan singkat ke Yuli Samsidah agar menjemputnya pulang dari opname di RS lantaran kondisinya yang semula sakit mag sudah membaik dan diperbolehkan pulang oleh dokter.

Yuli Samsidah mengatakan, keponakannya belakangan mendapat asupan obat sakit jantung padahal ia menderita sakit mag. Anehnya lagi kata Yuli Samsidah, pihak RS menolak uang pembayaran biaya opname dan ambulan yang diberikan keluarga korban seusai pasien meninggal.

“Dari mulut dan hidung korban keluar busa. Tubuhnya penuh keringat. Padahal sebelumnya baik-baik saja, bahkan mau sia-siap saya jemput pulang. Dia meminta saya membawakan seragam kerjanya dia, karena setelah keluar dari RS mau langsung kerja,” ungkap Yuli Samsidah