LONGSOR BANTUL : Kesalahan Konstruksi, Dinding Perumahan Ambrol

Kepala BPBD DIY Krido Suprayitno tengah memeriksa lokasi longsoran, di Dusun Ngentak, Desa Bangunjiwo, Jumat (14/10/2016) pagi. (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
16 Oktober 2016 03:20 WIB Bantul Share :

Longsor Bantul terjadi di sebuah perumahan.

Harianjogja.com, BANTUL -- Diduga salah konstruksi, dinding kompleks perumahan setinggi lima meter di kawasan Ngentak, Desa Bangunjiwo ambrol, Kamis (13/10/2016) sore. Akibatnya, longsoran berupa batu dan tanah memporakporandakan bagian dapur rumah salah satu warga yang ada di bawahnya.

Seperti diakui Sigit Tri Haryanto, warga yang rumahnya tertimpa longsoran tersebut beberapa minggu sebelum peristiwa longsor, ia dan sejumlah warga sudah merasakan pertanda ambrolnya dinding itu. Beberapa bulan pihaknya sempat menemukan adanya beberapa titik rekahan di tembok tersebut.
Khawatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan, pihaknya pun sempat melayangkan surat protes kepada pihak PT. Panca Sari Makmur selaku pengembang perumahan bernama Perum Bangunjiwo itu. Namun ia mengaku hingga kini pihak masyarakat sama sekali tak mendapatkan respon dari mereka. “Tak ada respon sama sekali. Sampai akhirnya kekhawatiran kami terbukti,” ucapnya.

Memang, Kamis (13/10/2016) sore lalu, ketika ia tengah beristirahat di kamar belakang rumahnya, ia dicemaskan dengan adanya aliran air yang merembes dari tembok perumahan tersebut. Kekhawatiranya itu pun terbukti. Sekitar pukul 16.00 WIB, saat hujan tengah deras-derasnya, mendadak tembok itu pun ambrol. “Beruntung saya segera lari. Kalau tidak, ya saya pasti akan jadi korban,” kisahnya.

Sementara Ketua RT 06 Ngentak, Ponidi membenarkan, selama ini pihaknya sama sekali tak pernah diajak berkomunikasi terkait rencana pembangunan perumahan tersebut. Diakuinya, sebelum memulai perataan tanah dua tahun silam, pihak pengembang hanya melakukan sosialisasi dengan warga Dusun Kalirandu. “Sedangkan wilayah kami tidak ada sama sekali [sosialisasi]. Padahal, dari dua dusun yang wilayahnya dipakai perumahan, wilayah kami lah yang terluas,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan proyek perumahan itu memang cukup meresahkan warga, terutama warga yang lokasi rumahnya berbatasan langsung dengan lokasi proyek. Terlebih, pihaknya menilai pembangunan tembok perumahan pun tak sesuai dengan standar keamanan yang ditetapkan warga.

Dijelaskannya, sejak awal warga berharap agar tembok itu dibangun dengan ketinnggian maksimal 1-2 meter dari batas teratas tanah. Tak hanya itu, dengan kondisi tanah yang labil, ia berharap agar tembok itu tidak dibangun secara vertikal sepenuhnya, melainkan memiliki kemiringan. “Kalau tegak begini, jelas warga yang ada di sekitarnya was-was,” ucapnya.

Selain rumah milik Sigit Tri Haryanto yang terkena longsoran, ia menilai setidaknya ada 4 Kepala Keluarga (KK) lain yang rumahnya kini juga terancam. Pasalnya, tembok perumahan di sekitar rumah mereka pun sudah tampak retak.
Kajian Dilakukan

Terkait hal itu, Pelaksana Proyek Yohannes yang ditemui terpisah, membantah pihaknya gegabah dalam membangun konstruksi tembok tersebut. Ia mengklaim pihaknya sudah melakukan kajian terlebih dulu sebelum memulai pembangunan.

Selain itu, ia pun membantah tidak berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Ia menegaskan, komunikasi itu sudah dibangunnya dengan masyarakat sejak awal ia melakukan perataan tanah lalu. Terkait dengan keluhan warga, ia mengaku keluhan itu hanya seputar debu proyek saja.  “Lagipula sampai sekarang, kami belum terima surat protes apapun dari warga kok,” katanya.

Ia menjelaskan, tembok yang ambrol itu sudah dibangunnya sejak awal 2016 silam. Dengan begitu, ia yakin akan ketahanan tembok tersebut. “Sejak awal 2016 lo dibangun. La ini karena intensitas hujan yang sangat tinggi. Siapa yang bisa melawan alam,” kilahnya.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Krido Suprayitno yang juga hadir langsung memantau lokasi longsoran menegaskan akan segera berkomunikasi dengan pihak Pemkab Bantul. Komunikasi itu akan ditekankannya terkait dengan izin yang diterima oleh pihak pengembang.

“Karena saya pastikan, longsor ini dikarenakan kegagalan konstruksi. Pihak pengembang harus bertanggung jawab,” tegasnya.