PERTANIAN BANTUL : Biarpun Merugi, Kami Tetap Kembali Bertani

Tanaman cabai yang membusuk membuat Sumarwan, salah satu petani asal Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Bambanglipuro terpaksa mencabuti tanaman di lahan miliknya, Sabtu (15/10/2016) sore. (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
17 Oktober 2016 20:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Pertanian Bantul mengalami musim yang berat tahun ini

Harianjogja.com, BANTUL- Suwarman, pemilik 2.300 meter persegi lahan cabai Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Bambanglipuro merugi.

Setidaknya, modal Rp9 juta yang ia keluarkan sebagai biaya awal tanam di musim tanam kedua ini pun ludes tanpa ada gantinya sama sekali.

Hanya saja, petani yang merupakan anggota dari Kelompok Tani Sidomaju itu tampak tegar. Ia lebih siap menghadapi kerugian besar. “Bagaimana lagi, siapa yang bisa melawan cuaca,” ujarnya, Sabtu (15/10/2016).

Ketiga gagal panen di musim tanam pertama lalu, ia pun berharap keajaiban terjadi di musim tanam kedua. Dengan semangat ia segera membeli benih cabai dengan harga yang terbilang tak murah. Dari total 50 nampan berisi benih, ia harus merogoh kocek hingga Rp75 ribu untuk pembelian per nampannya.

Ia tak ingin berlama-lama larut dalam kekecewaan. Perlahan-lahan ia mengubah kekecewaan itu menjadi harapan. Di salah satu petak lahannya, ia sudah melakukan persemaian benih padi seperti yang dianjurkan pemerintah.

“Semoga musim hujan ini bisa menjadi berkah untuk musim tanam padi berikutnya,” harapnya.

Sedikit semangat itu menurutnya tak muncul begitu saja. Berkumpul bersama petani yang lain, saling berkisah mengenai kerugian, ternyata adalah senjata ampuh baginya untuk menepis rasa kecewa.

Memang, dari  total 22 hektar lahan sawah yang ada di Plebengan, hampir 90% ditanami cabai. Harga jual yang tinggi menjadi alasan petani memilih komoditas itu dikala musim yang seharusnya masih ada di titik kemarau ini. “Tapi Tuhan berkata lain. Cuaca meleset dari yang prediksikan,” ucapnya.

Momentum seperti saat inilah yang ia maksud. Kami bisa merasakan, di balik kekecewaan setelah gagal panen, setidaknya masih tersimpan sedikit harapan di benak mereka.

Saat bercengkerama seperti sekarang ini, kegagalan panen dan kerugian jutaan rupiah justru menjadi bahan lelucon yang bisa menyegarkan suasana muram hati mereka.

Setidaknya mereka sadar, terlahir sebagai petani adalah anugerah yang tetap harus mereka jaga sampai akhir hayat nanti. “Iya, Mas. Kami ini petani. Sekecewa-kecewanya, sesedih-sedihnya, berapapun kerugian yang kami derita, kami tetap akan kembali ke sawah. Beberapa dari kami, saat ini memang butuh waktu saja untuk memulihkan kepercayaan dirinya,” timpal Supriyadi.