Ketoprak Adeging Kutho Cokro Amulyo, Cinta Menyatukan Etnis dan Status Sosial

18 Oktober 2016 15:20 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Ketoprak Adeging Kutho Cokro Amulyo menceritakan kisah cinta yang menyatukan etnis dan status sosial

Harianjogja.com, JOGJA- Gending gamelan melantunkan musik yang lirih, mengiringi pertemuan Jaka Prasetya dan Seruni. Dua sejoli yang memiliki latar belakang status sosial yang berbeda. Seperti bumi dan langit, kisah cinta mereka terbentur status kaya dan miskin.

Jaka Prasetya, putra seorang priyayi dan terpandang di sebuah desa. Sedangkan, Seruni, gadis desa yang terlahir dari keluarga sederhana dan miskin.

Konflik pelik perkara status sosial membuat Jaka bermusuhan dengan ayahnya. Bahkan, perseteruan bapak dan anak, serta persoalan status kaya dan miskin tak lagi menjadi persoalan di ranah percintaan antara Jaka dan Seruni.

Konflik ini pun turut menarik warga desa dari keduanya. Perbedaan antara Si Kaya dan Si Miskin menjadi persoalan memanas yang terjadi antara warga desa dan mulai meresahkan.

"Namun, perjuangan Jaka dan Seruni akhirnya mampu meluluhkan hati orang tuanya. Bahkan, keduanya juga turut menyatukan desa-desa kecil, warga dari berbagai latar sosial, etnis dan agama," ungkap Sutradara dan Penulis ketoprak dengan lakon Adeging Kutho Cokro Amulyo, Abraham Nur Alam.

Kisah ini merupakan penggalan cerita dari pentas ketoprak berjudul Adeging Kutho Cokro Amulyo. Cerita yang dibalut dengan romantisme, dagelan dan budaya Jawa ini menjadi penutup Cokrofest sebagai persembahan untuk HUT ke-260 Jogja yang digelar di halaman Kantor Harian Jogja, Minggu (16/10/2016) malam.

Melalui drama ketoprak ini, keistimewaan Jogja sebagai kota yang memiliki banyak budaya dikisahkan dengan unik. Selama ini, citra Jogja dikenal sebagai kota yang didiami banyak etnis, suku bangsa, agama dari berbagai daerah di Indonesia.

Keberagaman ini mencoba dituangkan dalam sebuah pertunjukan ketoprak yang berhasil menghibur warga Kecamatan Jetis dan sekitarnya.

"Nilai yang disampaikan dari cerita ini adalah penyatuan desa-desa kecil menjadi desa yang besar yang di dalamnya terdapat suku bangsa yang berbeda, orang kaya, orang miskin, agama yang beragam menjadi sebuah desa atau sekarang ini Kampung Cokrodingratan," jelas Nur Alam.

Pentas tersebut tak hanya syarat akan makna persatuan dan keistimewaan Jogja. Penerapan Bahasa Jawa dan pengenalan gamelan sebagai budaya kota ini juga mencoba ditekankan. Hal ini merupakan upaya pelestarian budaya Jawa untuk anak cucu.

Tak hanya terhibur dengan kisah cinta muda-mudi saja. Gelak tawa warga yang menonton pun memecah dengan dagelan Jawa yang ditampilkan khas dari dua komedian Jogja, Gareng Rakasiwi dan Joned. Aksi lucu keduanya dalam membawakan lawakan gaya Mataraman berhasil menutup meriah ketoprak malam itu.