Serunya saat Anak TK Bopkri Pelangi Bantul Melihat Reptil

Keseruan siswa-siswa Kelompok Bermain dan TK BOPKRI Pelangi Bantul saat bermain dengan reptil milik Komunitas Bantul Reptil (Barep), Jumat (21/10/2016) pagi. (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
22 Oktober 2016 19:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Komunitas Bantul Reptil (Barep) untuk mengenalkan beragam jenis reptil pada semua siswa TK BOPKRI Pelangi Bantul

Harianjogja.com, BANTUL- Banyak cara mengenalkan pentingnya peran hewan dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah mendekatkan satwa itu pada manusia. Jika itu dilakukan secara intens, niscaya manusia akan menyadari pentingnya kehadiran mereka.

Itulah yang coba dilakukan oleh pihak TK BOPKRI Pelangi Bantul yang mendatangkan Komunitas Bantul Reptil (Barep) untuk mengenalkan beragam jenis reptil pada semua siswanya.

“Saya..Saya..Kenapa buaya kok hidupnya di laut,” tanya spontan Floren, seorang bocah siswa TK B TK BOPKRI Pelangi, Jumat (21/10/2016) pagi itu di Gedung Serba Guna TK BOPKRI Pelangi Bantul.

Dengan cermat pula Redi Hantoro yang berdiri di depan Floren dan kawan-kawan sebayanya menjawab. Dengan singkat namun jelas ia menjawab pertanyaan bocah itu.

“Buaya itu tidak hidup di laut. Buaya di laut hanya mencari makan. Setelah kenyang, ia kembali ke darat untuk mencerna makanannya,” terangnya sambil meminta rekannya yang menggendong buaya sepanjang hampir 1 meter dengan mulut tertutup lakban, untuk lebih mendekat kepada Floran dan kawan-kawannya.

Bersambung halaman 2

Redi adalah Ketua Umum Komunitas Bantul Reptil (Barep). Pagi itu, dia dan kawan-kawannya sengaja diundang oleh Kepala TK BOPKRI Pelangi untuk memberikan edukasi mengenai reptil kepada para bocah yang duduk di bangku Kelompok Bermain dan TK.

Dua ekor ular boa sepanjang lebih 3 meter merayapi lantai gedung itu. Lidah mereka sesekali terlihat menjulur keluar.

Melihat itu, sontak para bocah tampak histeris. Ada yang bergidik, bahkan ada pula beberapa yang terlihat kegirangan. Ada yang penasaran, ada juga yang diam kaku memandangnya. “Kalau ini namanya ular apa?” celoteh Nike, seorang bocah lainnya.

Setelah tangan mungilnya mengelus tubuh Si Boa, Nike pun bergidik. Sambil terbahak-bahak, bocah yang tinggal di kawasan Banguntapan itu kembali penasaran. “Aku mau pegang ekornya, dong. Ekornya lucu, kayak peniti.”

Meski sedikit ragu-ragu, tapi tak ada sedikit pun ketakutan di mata bocah itu. Bahkan ia sesekali memainkan tubuh gemuk ular berwar cokelat itu.”Tidak. Nike tidak takut. Ularnya kan lembut,” katanya saat coba ditanyai wartawan.

Bersambung halaman 3


Edukasi yang dilakukan Redi dan kawan-kawannya itu memang bukan yang pertama.

Sebagai komunitas reptil yang baru berdiri 2 tahun terakhir, Barep memang kerap mendapatkan tawaran dan undangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, beragam rentang usia. Mulai dari bocah TK hingga remaja dan orang dewasa pernah diedukasinya mengenai detail  binatang merayap itu.

Selama ini, masyarakat lebih familiar dengan reptil jenis ular. Padahal tak hanya ular, reptil banyak sekali jenisnya. Ada biawak, iguana, kura-kura, hingga binatang sejenis tokek, Gecko, yang kini tengah banyak dibiakkan lantaran harganya yang mencapai jutaan rupiah.

Bukan saja mengenalkan agar masyarakat, terutama bocah-bocah TK itu tak takut pada binatang reptil, saat memberikan edukasi, ia dan kawan-kawannya juga mengemban misi mulia. “Tak lupa, kami selalu mengampanyekan pelestarian reptil. Terutama ular. Karena ular lah yang sering muncul di sekitar pemukiman warga,” katanya.

Padahal, jika dilihat dari perannya, ular memiliki peran sangat mulia dalam rantai ekosistem. Manusia kerap tak sadar betapa berjasanya ular bagi kehidupan mereka. Analoginya sederhana, adanya ular di sawah, jelas menjadi momok bagi hama-hama tikus yang selama ini justru menjadi momok bagi hampir semua petani. Jadi, bisa dibayangkan jika populasi ular terus merosot, maka pertumbuhan tikus pun kian subur. Akibatnya, tanaman petani pula yang terancam.

Melihat tingkah polah bocah-bocah itu, Redi dan kawan-kawannya tampak puas. Mereka tanpa canggung turut larut dalam ceria kanak-kanak. “Anak-anak terlihat gembira. Setidaknya ini bukti bahwa mereka antusias mengenal reptil-reptil milik kami,” ujarnya.