PERTUMBUHAN EKONOMI DIY : Dunia Usaha Menggeliat pada Triwulan III

Pedagang sayuran di Pasar Beringharjo. (Kusnul Isti Qomah/JIBI - Harian Jogja)
26 Oktober 2016 15:55 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Pertumbuhan ekonomi DIY menggeliat di triwulan kedua

Harianjogja.com, JOGJA—Kondisi dunia usaha Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat meningkat berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia. Pemicu  utama merupakan Hari  Raya Idulfitri.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Arief Budi Santoso mengatakan, pertumbuhan itu terlihat dari angka Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada triwulan III sebesar 1,20%.

Hal itu lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang dalam posisi negatif yakni -0,42%. Peningkatan kegiatan usaha didorong peningkatan realisasi kegiatan usaha pada sebagian sektor ekonomi, di antaranya sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan SBT 2,55%.

Peningkatan juga terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi dengan SBT 0,61% dan sektor jasa dengan SBT 2,44%.

“Peningkatan kegiatan usaha ini dipengaruhi volume penjualan yang didorong oleh faktor musiman yakni meningkatnya permintaan dengan momentum perayaan Idulfitri,” kata dia, Selasa (25/10/2016).

Ia menyebutkan, ekspansi kegiatan usaha juga terlihat dari kondisi keuangan perusahaan berdasarkan kondisi likuiditas yang membaik. Hal itu terlihat dari saldo bersih kondisi likuiditas selama tiga bulan terakhir sebesar 29,01%, meningkat dari triwulan II yang sebesar 28,22%.

Bersambung halaman 2

Terkait pembiayaan, dunia usaha menilai kemudahan akses kredit perbankan relatif sama dibandingkan triwulan sebelumnya.
Ia mengungkapkan, kegiatan usaha pada triwulan IV akan mengalami ekspansi.

Optimisme pelaku usaha terlihat dari SBT triwulan IV sebesar 11,53%. Angka itu lebih tinggi dibandingkan triwulan II yang sebesar 1,20%. Peningkatan kegiatan usaha pada triwulan IV diperkirakan terjadi pada semua sektor, kecuali pertumbuhan pada sektor industri pengolahan dan perdagangan, hotel dan restoran sedikit melambat.

Sementara itu, pada triwulan III usaha di sektor pertanian dan pengolahan mengalami penurunan. Sejalan dengan penurunan itu, rata-rata kapasitas produksi terpakai pada triwulan III juga mengalami penurunan.

Rata-rata kapasitas produksi terpakai pada triwulan III berada di level 63,57%, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 66,76%. Penggunaan tenaga kerja dan investasi juga tercatat menurun.

Kinerja sektor industri pengolahan mengalami perlambatan pada triwulan III dan terlihat dari SBT 1,58% yang menurun dari triwulan sebelumnya yang sebesar 2,53%. Hal ini sejalan dengan nilai Prompt Manufacturing Index (PMI) triwulan III sebesar 44,07%, menurun dari 51,02%.

Berdasarkan komponen pembentuk PMI, penurunan disebabkan seluruh komponen indeks, kecuali volume persediaan barang jadi. “Penurunan komponen indeks terbesar terjadi pada indeks tenaga kerja dan volume produksi,” ungkap dia.

Kinerja sektor industri pengolahan diperkirakan akan meningkat pada triwulan IV. Hal itu tercermin dari indeks PMI yang meningkat dari 44,07% menjadi 45,19%. Peningkatan sektor industri pengolahan dipengaruhi peningkatan indeks tenaga kerja sebesar 1,11%, dari 8,15% pada triwulan III menjadi 9,26% pada triwulan IV 2016.