BENCANA BANTUL : Dilanda Puting Beliung, Desa Bawuran Porak Poranda

19 November 2016 01:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Bencana Bantul terjadi berupa angin puting beliung

Harianjogja.com, BANTUL-Angin puting beliung kembali melanda wilayah Bantul. Kali ini kawasan Desa Bawuran, Kecamatan Pleret yang menjadi sasarannya.

Akibatnya puluhan pohon tumbang dan sejumlah rumah milik warga termasuk satu diantaranya sekolah TK dan PAUD Masyithoh di wilayah Dusun Bawuran II tampak porak poranda akibat terjangan angin tersebut.

Hingga berita ini diturunkan listrik di beberapa titik wilayah Desa Bawuran masih padam lantaran rusaknya beberapa jaringan listrik di wilayah tersebut.

Juhani, warga RT 06 Dusun Bawuran II, Desa Bawuran menuturkan sekitar pukul 14.00, hujan deras disertai angin kencang memang melanda wilayah sekitar rumahnya. Tak lama berselang, pusaran angin besar mendadak muncul dari selatan menuju ke barat menyapu apapun yang dilewatinya. “Termasuk rumah saya yang berada di tepi sawah itu. Atapnya rusak semua,” katanya saat ditemui usai membereskan puing-puing atap rumahnya yang berserakan.

Mengingat besarnya pusaran angin, ia menduga banyak bangunan yang jadi korban. Ia menyebutkan, di sekitar rumahnya saja, sudah ada 2-3 rumah yang atapnya berserakan tersapu angin tersebut.

Termasuk pula bangunan TK-PAUD Masyithah yang berjarak beberapa meter saja dari rumahnya. Dari pantauan di lapangan, kondisi bangunan yang dibangun sejak pasca gempa 2006 silam itu pun tampak porak poranda. Separuh atap dari sekolah 7 kelas itu hilang tersapu angin. “Tadi, saya dan guru-guru kerja bhakti mengevakuasi barang-barang penting,” kata Ismanto, penjaga sekolah tersebut saat ditemui di lokasi.

Beruntung, saat kejadian tak ada aktivitas belajar mengajar di sekolah dengan jumlah siswa mencapai 70 anak itu. Dikatakan Ismanto, ketika itu para siswa tengah mengikuti materi renang di luar sekolah. “Kok ya untungnya, Mas. Tadi anak-anak sedang tidak belajar di sini,” imbuhnya.

Terpisah, Pengawas Taman Kanak-Kanak Kecamatan Pleret Sri Sundari mengaku terkejut dengan peristiwa tersebut. Ia menuturkan, untuk menghindari rasa trauma anak-anak, ia memutuskan agar TK-PAUD Masyitah tidak meliburkan siswanya.

Dengan kondisi tersebut, praktis sekolah memang tak lagi bisa digunakan. Untuk sementara, pihaknya akan memindahkan lokasi belajar para siswa ke rumah salah satu pengajar PAUD. “Tetap saya minta masuk sekolah. Biar anak-anak tidak trauma.
Beruntung, ada guru PAUD yang bersedia menampung mereka sementara,” ujar Sri.