WISATA KULONPROGO : Menyusuri Rindangnya Gua Mangrove di Pasir Mendhit

Gua mangrove menjadi alternatif objek wisata yang bisa ditemukan di kawasan wisata Pasir Mendhit, Jangkaran, Temon, Kulonprogo. Gua in menyediakan sensasi menelusuri lorong rindang daro pohon yang efektif menahan abrasi pantai ini, November 2016. (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
21 November 2016 04:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Wisata Kulonprogo ini menawarkan rimbunnya hutan mangrove hingga menyerupai gua

Harianjogja.com, KULONPROGO-Pesona wisata mangrove di ujung barat Kulonprogo semakin bertambang dengan keberadaan Gua Mangorve di Pasir Mendhit, Jangkaran, Temon. Objek wisata ini menawarkan sensasi menjelajahi lorong dari tanaman mangrove.

Gua mangrove terletak tak jauh di sebelah utara Jembatan Mangorve Wanatirta yang sudah tenar sebelumnya. Begitu memasuki area parkiran wisata mangrove Wanatirta, berjalanlah ke barat sejauh kurang lebih 100 meter sampai menemukan pohon cemara. Terdapat sebuah papan yang ditempel di salah satu pohon cemara sebagai penunjuk arah menuju Gua Mangrove.

Papan kayu itu menunjukkan arah utara tempat Gua Mangrove bermula. Akses menuju goa buatan tersebut diawali dengan jembatan bambu sepanjang 30 meter. Tertulis pula kalimat, Welcome to Gua Mangrove, di bagian awal jembatan yang juga dihiasi dengan kreasi pipa bekas itu.

Pengunjung kemudian akan melewati jalan setapak tanah yang rindang dengan phon mangrove yang tertanam di kanan dan kiri jalan.

Tak berapa jauh, jalan setapak tanah berubah menjadi jalan yang tersusun dari sejumlah karung sehingga pengunjung tak perlu khawatir sepatunya akan kotor. Pasalnya, jalan setapak dan lokasi sekitarnya merupakan tanah berlumpur tempat habitat tanaman mangrove. Di sejumlah titik juga nampak jejak kepiting dan lubang galiannya.

Jika pengunjung melanjutkan penelurusan hingga semakin ke dalam gua maka akan merasakan sinar matahari terasa semakin redup. Hal ini diakibatkan rimbunnya pepohonan mangrove yang bersaling-silang.

Meski ada sebuah rute utama yang bisa ditelusuri namun pengunjung sebenarnya bisa memilih alternatif jalur dengan banyak persimpangan. Namun jangan khawatir tersesat karena semua persimpangan menuju satu tujuan yang sama.

Sepanjang jalur juga disediakan sejumlah tempat sampah untuk menjaga kebersihan lokasi ekowisata tersebut. Warso Suwito, Ketua Pelestari Hutan Mangrove dan Pesisir Wanatirta mengatakan goa tersebut menjadi pengembangan wisata sejak sekitar April lalu.

“Menjadikan ekowisata yang berfungsi sebagai konservasi dan edukasi,” jelasnya pekan lalu.

Menurutnya, beragam kalangan sudah singgah mulai dari masyaraka umum, mahasiswa, hingga instansi.

Membaca minat wisatawan masa kini, disedikan pula sejumlah spot yang bisa digunakan untuk berfoto dan beristrirahat. Bahkan, ada 2 buah gubug dari bambu yang sengaja dicat merah muda dengan gerbang berbentuk hati. Tak melupakan unsur edukasinya, gerbang tersebut juga dibuat dari barang bekas.