BUNUH DIRI BANTUL : Tak Masuk DPT, Pria Paruh Baya Terjun dari Jembatan Srandakan

BERMAIN AIR-Anak-anak bermain air saat banjir merendam sejumlah rumah di Sewu, Solo, Rabu (22/2). Hujan deras yang melanda wilayah Soloraya pada Selasa (21/2) malam hingga Rabu (22 - 2) pagi, membuat tinggi permukaan air di Bengawan Solo mengalami kenaikan.
23 November 2016 21:55 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Bunuh diri Bantul berhasil digagalkan.

Harianjogja.com, BANTUL -- Tak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilihan Lurah Desa (Pilurdes) Wijirejo, Giyanto, warga Dusun Bajang nekat bunuh diri. Pria berumur 56 tahun itu nekat melompat dari atas Jembatan Srandakan, Rabu (23/11/2016). Beruntung, ia masih berumur panjang.

Alih-alih hanyut oleh Sungai Progo, lelaki itu justru masuk ke kolam ikan milik Jumingan, 55 warga Kedungbule, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan. Akibatnya, Giyanto pun hanya mengalami luka-luka ringan.

Menurut penuturan Basinah, 52, istri korban, suaminya itu sudah kerap mengancam akan mengakhiri hidudpnya. Pemicunya sangat sepele. Suaminya tidak masuk dalam daftar pemilih. Dengan begitu, suaminya mengira praktis sudah tak terdaftar lagi sebagai warga.

”Karena tidak jadi warga,  secara otomatis tidak bisa memiliki hak atas tanah warisan orang tua,” katanya.

Kapolsek Srandakan AKP Endang Suprapto menambahkan, salah satu saksi mata mengaku melihat korban tengah duduk-duduk di tepi jembatan yang memisahkan Bantul dan Kulonprogo itu. Tak lama berselang, mendadak Giyanto melompat ke bawah.

“Pemilik kolam dikagetkan dengan dengan suara benda tercebur ke kolamnya. Setelah dilihat, ternyata orang. Pemilik kolam itu pun segera menolongnya,” katanya.

Mengalami luka di bagian punggung, korban pun segera dilarikan ke Puskesmas Srandakan untuk memperoleh perawatan. Setelah perawata selesai, korban lantas diantar kembali ke rumahnya.