PERTUMBUHAN EKONOMI : Bawang Merah Picu Inflasi Jogja 0,32%

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristianto (di depan) saat memberikan keterangan dalam BRS BPS DIY, Bantul, Kamis (1/12). (Kusnul Isti Qomah/JIBI - Harian Jogja)
02 Desember 2016 11:55 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Pertumbuhan ekonomi DIY dipengaruhi harga bawang merah.

Harianjogja.com, BANTUL--Jogja mengalami inflasi sebesar 0,32% pada November 2016. Kelompok bahan makanan memberikan kontribusi terbesar untuk kenaikan inflasi yakni sebesar 1,31%. Kenaikan indeks kelompok bahan makanan dipengaruhi kenaikan harga bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristianto mengatakan, ada empat kelompok pengeluaran mengalami kenaikan angka indeks yakni bahan makanan naik 1,31%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik 0,30%; kelompok kesehatan naik 0,33%; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan naik 0,28%. "Komoditas yang paling mempengaruhi terjadinya inflasi adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, tarif pulsa ponsel, dan gudeg," ujar dia dalam Berita Resmi Statistik (BRS) di BPS DIY, Bantul, Kamis (1/12).

Ia mengatakan, DIY sebetulnya memiliki sumber bawang merah dan cabai. Namun, hasil panen dari DIY digunakan untuk memasok kebutuhan di luar DIY. Sebaliknya, kebutuhan akan bawang merah dan cabai di DIY disuplai dari daerah lain. Hal itu berpengaruh pada harga bahan pangan yang bersangkutan.

Ia mengatakan, bawang merah mengalami kenaikan harga 27,55% dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,14%; cabai merah naik 34,58% dengan memberikan andil sebesar 0,08%; cabai rawit naik 52,39% dengan memberikan andil sebesar 0,05%. Kemudian, tarif pulsa ponsel naik 1,83% dengan memberikan andil 0,03%; gudeg, soto, dan bawang putih naik 2,73%, 1,65%, dan 3,23% dengan masing-masing memberikan andil sebesar 0,02%.

Ia menjelaskan, kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit memang jauh lebih tinggi dibandingkan bawang merah. Tetapi, andil terhadap inflasi masih lebih tinggi bawang merah. Pasalnya, kebutuhan bawang merah di DIY lebih tinggi dibandingkan cabai merah dan cabai rawit. "Di DIY ini hampir semua masakan memakai bawang merah, tetapi cabai belum tentu dipakai dalam semua makanan," ujar dia.

Kemudian, ada tiga kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks yakni kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar turun 0,13%; kelompok sandang turun 0,21%; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga turun 0,08%. "Komoditas yang menghambat inflasi adalah semen, daging ayam ras, telur ayam ras, apel, dan kentang," ucap dia.

Harga semen turun 7,08% dengan andil -0,05%; daging ayam ras turun 4,01% dengan memberikan andil sebesar -0,04%; telur ayam ras turun 3,47% dengan memberikan andil sebesar -0,02%; apel turun 5,08% dan memberikan andil sebesar -0,01%. Adapun laju inflasi tahun kalender 2016 (November 2016 terhadap Desember 2015) sebesar 1,93%. Laju inflasi year on year (November 2016 terhadap November 2015) sebesar 2,91%.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati mengatakan, harga cabai merah cukup tinggi pada November dan pernah menyentuh angka Rp60.000 per kg. Harga rata-rata cabai merah keriting pada awal November sebesar Rp49.667 per kg dan saat ini sudah mulai turun menjadi Rp46.000 per kg. Harga cabai merah besar pada awal bulan Rp51.333 per kg kini menjadi Rp46.000 per kg.

Harga rata-rata cabai rawit hijau pada awal bulan Rp36.667 per kg dan saat ini Rp38.667 per kg, cabai rawit merah pada awal bulan Rp40.667 per kg dan saat ini Rp40.333 per kg. "Untuk bawang merah, harga rata-rata pada awal bulan Rp34.667 per kg dan saat ini Rp34.667 per kg," ungkap dia.