UMKM SLEMAN : Disperindagkop akan Berikan Eco-label untuk Batik Pewarna Alami

08 Desember 2016 03:20 WIB Sleman Share :

UMKM Sleman dipromosikan dengan membuat kebijakan baru.

Harianjogja.com, SLEMAN -- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindagkop) Kabupaten Sleman berencana akan memberikan eco-label pada produk batik yang dibuat dengan menggunakan pewarna alami yang dibuat oleh para perajin di Kabupaten Sleman.

Pemberian eco-label tersebut dilakukan guna memberikana jaminan keamanan pada konsumen serta untuk mendongkrak produktivitas produksi batik itu sendiri.

"Kalau sudah diberi eco-label kan bisa diketahui bahwa produk batik tersebut ramah lingkungan," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Kabupaten Sleman, Pustopo, Rabu (7/12/2016).

Dikatakannya, di sisi lain langkah tersebut merupakan upaya penting yang harus dilakukan untuk menjaga daya saing penjualan dalam kancah internasional. Pasalnya, saat ini banyak negara-negara yang sudah menerapkan larangan untuk penggunaan pewarna sintetis. Contohnya Australia, dan sejumlah negara lain di Eropa, kata Pustopo lebih banyak peminat dari produk yang menggunakan pewarna alami. Meski demikian ia tidak memungkiri bahwa untuk penggunaan pewarna alami sendiri justru tidak banyak diminati oleh pembeli lokal, lantaran hasil warna dari pewarna alami cenderung kusam dan tidak cerah.

Namun demikian saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengembangkan bahan-bahan pewarna alami. Ke depan Disperindagkop dan UGM akan berencana membuat bahan pewarna alami instan yang sudah terstandarisasi. Sehingga warna-warna yang dihasilkan dari bahan pewarna tersebut dpat memenuhi standar kecerahan tertentu serta dapat mempermudah pekerjaan perajin agar tidak perlu repot untuk menumbuk dan menyeduh bahan untuk membuat pewarna alami sendiri.

"Nanti kita tinggal melakukan binaan kepada kelompok perajin batik, agar mau menggunakan pewarna yang alami," katanya. Ia menambahkan untuk sata ini, di Sleman sudah ada sekitar 22 kelompok perajin yang terbentuk karena inisiasi dari masyarakat sendiri, dengan jumlah anggota pada masing-masing kelompok mencapai 20 orang.

Selain mendorong penggunaan bahan pewarna alami di kalangan para pengrajin, Disperindagkop juga tengah mempersiapkan ketersediaan bahan-bahan alami dari tananam Bidiovera, Jolawe, dan Tongje yang sudah mulai dilakukan penanaman di daerah Minggir dan sekitar lereng Merapi.

Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan, saat ini sebagian besar perajin batik di Sleman memang masih menggunakan pewarna sintetis. kondisi tersebut disebabkan karena saat ini masih susah mencari bahan-bahan baku pewarna alami. "Tanaman bahan pewarna alami masih jarang, proses pembuatannya juga cenderung lebih lama serta harganya masih tinggi," katanya.

Padahal menurutnya, harga jual kain batik dengan pewarna alami bisa mencapai sepuluh kali lipat di bandingkan harga jual kain batik dari pewarna sintetis. Meski sifatnya lebih ramah lingkungan, perhitungan ekonomis membuat para perajin masih enggan menggunakan pewarna alami.

Adapun saat ini bahan baku pewarna alami, kebanyakan masih didatangkan dari Temanggung Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dengan demikian hanya sedikit saja perajin yang mau menggunakan bahan pewarna alami tersebut.