PILKADA KULONPROGO : Banyak Penyandang Disabilitas Enggan ke TPS, Ternyata Ini Penyebabnya

Seorang penyandang disabilitas mengamati poster bergambar pasangan calon bupati dan wakil bupati Kulonprogo saat mengikuti sosialisasi Pilkada 2017 di Aula Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kulonprogo, Jumat (18/11/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI - Harian Jogja)
08 Desember 2016 13:40 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Pilkada Kulonprogo diminta untuk ramah difabel

Harianjogja.com, KULONPROGO-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kulonprogo diminta memastikan Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada Pilkada 2017 ramah penyandang disabilitas. Bukan hanya soal fasilitas pendukungnya, melainkan juga kesiapan Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Kulonprogo, Sarjiya berharap seluruh penyandang disabilitas dapat menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada 2017 mendatang. Namun, selama ini ada banyak hal yang dapat membuat mereka enggan ke TPS.

Sarjiya memaparkan, lokasi TPS terkadang sulit dijangkau. Hal itu bisa membuat penyandang disabilitas mesti berpikir ulang jika tidak ada yang mengantar mereka ke TPS. Penataan fasilitas pendukung juga sering tidak sesuai, misalnya soal peletakan bilik suara yang seharusnya menyisakan cukup ruang untuk pengguna kursi roda.

“Kami juga pernah memantau ada jalan menuju TPS yang berundak sehingga sulit diakses,” kata Sarjiya, usai sosialisasi Pilkada 2017 bagi penyandang disabilitas di Balai Desa Margosari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, Rabu (7/12/2016).

Sarjiya lalu mengatakan, masalah belum tentu berakhir setelah penyandang disabilitas berhasil sampai di TPS. Mereka mungkin akan merasa bingung dan tidak tahu apakah anggota KPPS yang bertugas bisa memberikan pendampingan dan arahan khusus atau tidak.

Dia menyontohkan, para tuna rungu tidak bisa dipanggil dengan menggunakan pengeras suara seperti yang lainnya. Petugas mesti menyentuh mereka atau menggunakan bahasa isyarat. “Kami harap semua itu bisa diperhatikan sehingga baik tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, maupun jenis disabilitas lainnya bisa terfasilitasi,” ujar Sarjiya.

Seorang penyandang disabilitas bernama Hasta Nurani menyambut positif adanya sosialisasi Pilkada 2017 yang disertai simulasi pencoblosan bagi penyandang disabilitas. Dia hanya berharap kondisi TPS pada hari pencoblosan nanti bisa dibuat seperti saat simulasi.

“Dulu itu mejanya ketinggian jadi susah buat pengguna kursi roda kayak saya. Tempatnya juga mesti dibuat longgar buat gerak,” ungkap warga Hargomulyo, Kokap itu.