KEKERASAN PELAJAR : Bupati Sleman Minta Pelajar Klithih Dihukum Berat

Kawan korban saat menunjukkan foto mendiang Adnan Wirawan Arsiyanta, Rabu (14/12/2016). (Yudho Priambodo/JIBI - Harian Jogja)
15 Desember 2016 11:36 WIB Sleman Share :

Kekerasan pelajar di jalanan semakin memprihatinkan

Harianjogja.com, SLEMAN- Bupati Sleman Sri Purnomo angkat bicara terkait kasus klithih yang meresahkan masyarakat hingga menimbulkam banyak korban. Menurut Sri, agar memberikan efek jera pelaku klitih harus diproses secara hukum.

"Harus diproses hukum. Itu sudah ada undang-undangnya, meskipun pelakunya di bawah umur," katanya kepada wartawan, Rabu (14/12/2016).

Sri mendesak agar pihak kepolisian menindak tegas pelaku klitih. Pasalnya selain menimbulkan korban luka, aksi klithih yang dilakukan anak-anak dibawah umur tersebut telah memakan korban jiwa. "Kalau tidak ditindak tegas, nggak jera-jera," katanya.

Menurut Sri, para pelaku klithih yang berstatus pelajar akan ditangani langsung oleh pengadilan. Sleman juga memiliki Pengadilan Anak untuk menangani kasus kriminal dengan pelaku di bawah umur.

Dia berharap, guru dapat memberikan perhatian pada anak-anak. Terutama siswa-siswi yang menunjukkan aksi-aksi berlebihan. "Untuk menekan aksi klithih kami juga akan memaksimalkan kembali peran guru bimbingan konseling [BK]. Kami akan lakukam pertemuan dengan guru-guru menangani masalah ini," tandasnya.

Untuk saat ini, Sri mengaku belum berencana untuk membuat peraturan khusus terkait kenakalan remaja. Namun jika hal tersebut diperlukan, ia akan segera mendiskusikan hal itu dengan elemen pemerintahan dan masyarakat. "Orangtua dan sekolah harus benar-benar memperhatikan aktivitas anak, baik di rumah, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat," ujarnya.

Aksi klitih yang terjadi akhir-akhir ini meresahkan masyarakat bahkan menimbulkan sejumlah korban jiwa. Terakhir, siswa SMA Muhammadiyah 1 Jogja, Adnan Wirawan Ardianto meninggal dunia.