KISAH INSPIRATIF : Mimpi Bantu Anak Indonesia Meraih Pendidikan Lebih Tinggi

Pratiwi Budi Amani Yuwono (IST)
16 Desember 2016 06:20 WIB Jogja Share :

Kisah inspiratif dari Pratiwi Budi Amani Yuwono
 
Harianjogja.com, JOGJA -- Pendidikan di Indonesia belum menyebar ke seluruh pelosok negeri. Namun, setiap generasi bangsa ini memiliki hak dan kesempatan untuk belajar dan menerima pendidikan. Motivasi inilah yang menggerakkan Pratiwi Budi Amani Yuwono, 23, untuk membantu para pelajar Indonesia mendapatkan hak pendidikan, terutama mereka yang ingin meraih pendidikan hingga ke luar negeri.

Menjadi volunteer sebuah yayasan pendidikan internasional yang didirikan bibinya, Tiwi, demikian biasa dia disapa, semakin melihat banyak potensi dari anak-anak Indonesia untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi.

“Yayasan ini menggunakan nama nenek saya, Dahuni. Beliau menjadi inspirasi bagi keluarga kami, karena pemikirannya yang menanggap perempuan itu memiliki tempat yang setara dengan laki-laki,” ujar Tiwi kepada Harianjogja.com ditemui di salah satu restoran siap saji di Jalan Sudirman, Jogja, Rabu (14/12/2016).

Yayasan Dahuni Foundation yang didirikan Riyani Indriyani, menjadi tempat Tiwi berpijak dalam membantu kelanjutan pendidikan anak-anak Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tiwi mengungkapkan, banyak anak Indonesia yang memiliki mimpi untuk bisa meraih pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri.

Kendati banyak yang mampu meraih bea siswa, namun di tengah jalan tersandung oleh standarisasi pendidikan yang jauh berbeda dengan di Indonesia. Umumnya, banyak dari mereka yang sulit menembus pendaftaran di perguruan tinggi di luar negeri yang dituju.

“Karena ada perbedaan standarisasi itulah, banyak yang sulit mendapatkan LoA [letter of acceptance] dari kampus yang mereka tuju. Padahal mereka sudah mengantongi bea siswa,” ungkap Tiwi.

Menjadi perwakilan yayasan untuk Indonesia, merupakan kesempatan bagi Tiwi untuk bisa membagi pengalamannya mengajar para calon pelajar yang akan menimba ilmu di negeri orang. Kini, anak sulung dari dua bersaudara ini tengah mendorong pendidikan, terutama di bidang Bahasa Inggris untuk para pelajar di kampung halaman neneknya di Boyolali, Jawa Tengah.

Untuk itu, fokus dulu di satu daerah, yakni di Boyolali. Dari daerah yang kecil ini nanti bisa mengembangkan bibit-bibit baru dan ke depannya mereka bisa beregenerasi membantu generasi berikutnya,” jelas Tiwi.Jangan Takut Gagal

Meski demikian, diakui Tiwi rasa kecil hati, tidak percaya diri dan tidak yakin pada kemampuan diri sendiri masih menjadi momok para anak muda yang ingin belajar, terutama belajar Bahasa Inggris. Jika ada satu teman yang menganggap remeh kemampuan bahasa asing temannya yang lain, hal itu terkadang memengaruhi nyali mereka dalam belajar bahasa Inggris.

“Ketika mereka mau latihan dan speak up, mereka bakal amaze banget pada kesempatan yang bakal mereka raih. Asalkan, kuncinya jangan takut gagal. Karena kesuksesan itu tidak bisa diraih dalam satu kali percobaan,” ungkap Tiwi.

Siapapun, kata Tiwi, orang yang meraih kesuksesan pasti belajar dari kesalahan. Melalui kegagalan seseorang akan mendapatkan pelajaran, namun jika menyerah maka akan ada seleksi alam.

“Ketika kamu gagal, kamu melakukan kesalahan, kamu juga harus tahu di mana harus memperbaikinya ke depan. Itu yang bakal menuntun kamu menuju kesuksesan. Itulah yang saya pelajari,” tegas Tiwi. Terinspirasi Anak-Anak Papua untuk Mengajar

Sejak awal, menjadi pengajar bukan passion Tiwi seusai lulus dari Jurusan Arkeologi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, setelah beberapa bulan menjalani kuliah kerja nyata (KKN) tahun 2015 silam di sebuah daerah di Kabupaten Puncak, Papua, Tiwi ingin bisa membantu anak Indonesia untuk meraih pendidikannya.

Kali pertama menginjakkan kaki di tanah Papua, Tiwi tidak pernah menyangka jika dia akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan mengubah prinsip hidupnya. Perjuangan anak Papua menuntut ilmu membuat Tiwi terenyuh dan begitu membekas.

“Di sana [Papua] saya benar-benar melihat apa itu perjuangan. Untuk mencapai sekolah, anak-anak Papua berjalan selama satu jam, melewati perbukitan, naik turun gunung, enggak ada penerangan, harus menyeberangi sunga,” ungkap Tiwi haru mengingat pengalaman itu.

Tiwi mengisahkan, jika liburan kenaikan kelas, umumnya libur sekolah bisa sampai satu bulan. Namun, di Papua, anak-anak ini bisa libur hingga tiga bulan karena tidak ada guru yang mengajar. Sampai di Papua, Tiwi dan beberapa temannya juga harus menghadapi masa perang suku yang telah berlangsung lima tahun.

“Sebelumnya, saya enggak tahu apa yang bisa saya lakukan di Papua. Saya berpikir paling cuma ngajar doang. Tetapi ternyata sekecil apapun yang kami lakukan di sana, itu sangat berarti bagi mereka,” papar Tiwi sambil menyeka air matanya.

Tiwi juga tertegun saat disuguhi semangat dan antusias anak-anak Indonesia Timur ini untuk belajar. Demi pendidikan, mereka rela berjalan kaki melewati perbukitan dan harus menyeberangi sungai. Bahkan, dia dan sejumlah temannya terkejut ketika datang, anak-anak Papua memanggil mereka dengan sebutan Pak Guru dan Bu Guru.

“Sungguh dengan apa yang saya lihat dan alami di Papua, saya jadi semakin bersyukur. Pengalaman itu menginspirasi saya untuk membantu yang lain. Saya tidak bisa setiap tahun ke Papua untuk mengajar mereka. Tapi saya bisa bantu anak-anak di Boyolali,” imbuh Tiwi.