Jogja Fashion Week 2017 Angkat Tema Kain Tenun

Kain troso yang merupakan cita tradisional khas Jepara menjadi salah satu daya tarik Pameran Produk UMKM Jepara Expo 2016 yang digelar di Semarang, Jawa Tengah (Jateng) hingga Senin (26/9/2016). Dalam pameran itu disajikan berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari Kabupaten Jepara. Kain troso yang dipamerkan dengan praktik menenun kain dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) hanya salah satunya. (JIBI/Solopos/Antara - R. Rekotomo)
02 April 2017 09:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Jogja Fashion Week 2017 akan digelar pada 23-27 Agustus 2017

 

Harianjogja.com, JOGJA-Helatan pameran dan peragaan busana Jogja Fashion Week 2017 akan digelar pada 23-27 Agustus 2017. Kali ini, kain tenun akan diangkat dan dipromosikan lebih gencar melalui tema Artistically Wastra.

Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) sebagai salah satu penggagas Jogja Fashion Week Lia Mustafa mengatakan, tahun lalu para desainer mengangkat busana berbahan dasar batik sehingga kental dengan budaya Jawa.

"Kalau tenun bisa Jawa, Bali, dan Sumatera jadi lebih luas. Boleh juga [desainer] mengangkat tenun dibatik," katanya dalam jumpa pers di Grand Aston, Kamis (30/3/2017) sore.

Lia mengatakan, Indonesia kaya akan kain. Melalui pagelaran tahunan ke 12 ini, Jogja Fashion Week ingin hadir sebagai wadah untuk memperkenalkan kain-kain lokal yang ada di Indonesia.

Lebih dari 70 desainer akan memeriahkan kegiatan ini, di mana 60% di antaranya berasal dari Jogja. Pakar tenun seperti Deden Siswanto, Didiet Maulana, dan Wignyo serta desainer dari Jepang akan siap memeriahkan pesta busana yang diselenggarakan di Jogja Expo Center ini.

Panitia akan menghadirkan tenant dengan konsep store dan menghadirkan beberapa store ternama. Meski konsepnya internasional tetapi panitia tetap mengangkat aspek lokal. "Bagaimana agar produk mereka bisa masuk ke store? Nanti akan ada seminarnya juga agar produk fashion bisa masuk store," katanya.

Panitia akan mengatur zonasi untuk pameran. Nantinya akan ada zona khusus baju muslim, zona pakaian pria, aksesoris, dan masih banyak lagi.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Budi Antono menyambut baik adanya terobosan itu. Pihaknya juga meminta agar kain lokal kabupaten di DIY juga kembali dikenalkan.

"Kalau tahun lalu batik Gedangsari, tahun ini kami dorong untuk kain Gebleg Renteng Kulonprogo. Sekarang banyak UMKM batik yang berkembang di sana terutama menjelang adanya bandara baru," tuturnya.

Ia menargetkan, transaksi yang terjadi dalam Jogja Fashion Week tahun ini bisa meningkat 15-30%.