PENATAAN MALIOBORO : Limbah Toilet Bawah Tanah Diolah Hingga Jernih

16 April 2017 10:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Penataan Malioboro, proyek toilet bawah tanah menerapkan teknologi ramah lingkungan

Harianjogja.com, JOGJA -- Proyek pembangunan toilet bawah tanah di kawasan titik nol kilometer Kota Jogja menggunakan teknologi ramah lingkungan. Limbah yang berasal dari buangan air kecil maupun air besar diolah lebih dahulu di bawah tanah dengan menggunakan teknologi bakteri pengurai untuk kembali dijernihkan.

Pelaksana Lapangan Proyek Pembangunan Toilet Bawah Tanah di Kawasan Titik Nol Kota Jogja Wintawan Alka Putranto menyatakan, pihaknya mengerjakan pembangunan toilet sesuai dengan desain arsitektur. Tidak ada yang khas dari sisi bangunan toilet itu meski berada di tengah jantung kota Jogja. Namun ia memastikan fasilitasnya setara dengan toilet hotel bintang lima.

"Kalau saya lihat arsitekturnya hanya gambar umum tidak ada ciri khusus," ungkapnya kepada Harianjogja.com, Jumat (14/4/2017).

Ia menambahkan, proses pengolahan limbah toilet itu bukan sekadar dibuang ke dalam tanah seperti layaknya septiktank pada umumnya. Akantetapi, di bawah tanah limbah akan diolah melalui instalasi pembuangan air limbah (IPAL). Jika kedalaman bangunan toilet sekitar lima meter, maka ia menambah dua meter lagi atau kedalaman tujuh meter sebagai tempat pengolahan limbah.

Wintawan mengklaim teknologi ramah lingkungan itu tergolong sederhana. Menggunakan bakteri pengurai, limbah dari urinoir dan water closed (WC) akan ditampung dalam IPAL. Sedangkan limbah dari wastafel akan dimasukkan ke bak penampungan. Dua tampungan ini dipastikan akan menjadi sumber pengolahan limbah menggunakan sistem mechanical dan electrical (ME) IPAL. Limbah itu akan dijernihkan sehingga air bisa dimanfaatkan kembali seperti untuk menyiram tanaman.

"Kebutuhan mesin teknologi, itu [ruang pengolahan] hanya tinggi 2 x 2 meter.  Kita juga main pompa pengurai, alat mesin pompa itu ada di dalam air. Ada tiga sumber [limbah] urinoir dan water closed masuk IPAL, wastafel masuk bak penampung, itu kemudian diolah sampai jernih kembali. Tidak ada yang berdampak lingkungan," kata dia.

Dari sisi fasilitas, toilet itu berjumlah 20 pintu terdiri atas enam toilet pria, 12 wanita dan dua untuk penyandang disabilitas. Seluruh ruangan terpasang AC, dilengkapi enam titik CCTV. Selain itu disediakan ruang laktasi berukuran 3 x 3 meter. Adapun luas bangunan 291 meter yang berada di lahan seluas 320 meter. "Pengerjaan saat ini proses penggalian, nantinya seluruh bangunan ada di bawah tanah," kata dia.