DIY Masih Relatif Aman dari Kekeringan, BNPB Siapkan Antisipasi
BNPB menyebut kondisi kekeringan DIY masih relatif aman. Pemantauan krisis air dan hotspot terus dilakukan untuk mengantisipasi bencana.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo (tengah) saat rapat koordinasi pengelolaan sampah di Balai Kota Jogja, Senin (13/10/2025). Ist/ Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja memperkuat upaya pengelolaan sampah dari hulu dengan mendorong pemilahan sejak di tingkat rumah tangga. Melalui gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos), warga diminta memilah sampah organik agar hanya residu yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju kemandirian pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menargetkan hingga akhir 2025 volume sampah yang dikirim ke depo dapat ditekan hingga 60 ton per hari.
“Rekonstruksi sosial itu butuh proses, tetapi tetap harus dilakukan. Sekarang kami mengajak dan menggerakkan masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah. Mas Jos bukan sekadar ajakan, tapi Pemkot juga membangun sistem dan memfasilitasi hingga tingkat rumah tangga,” ujar Hasto dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah di Balai Kota Jogja, Senin (13/10/2025).
Sebagai tindak lanjut, Pemkot menyiapkan lokasi transit di setiap kelurahan untuk proses pemilahan ulang oleh penggerobak. Tempat ini akan memastikan hanya residu yang dibawa ke depo atau TPA.
“Pemilahan kembali di tempat transit sangat diperlukan untuk menekan jumlah sampah yang dibawa ke depo. Tidak dipungkiri, masih ada plastik atau bahan lain yang sebenarnya bisa dibersihkan dan dimanfaatkan,” kata Hasto.
Tak hanya mengandalkan partisipasi warga, Pemkot juga memfasilitasi 1.200 penggerobak dengan dua ember khusus sampah organik sisa dapur. Upaya ini dilengkapi dengan program pembinaan di 45 kelurahan melalui perangkat daerah, termasuk penyediaan galon bekas sebagai wadah pengumpulan sampah organik. Edukasi pemilahan pun terus digencarkan untuk membentuk kebiasaan baru masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Rajwan Taufiq, mengungkapkan pengumpulan ember organik masih terus berlangsung. Dari 1.200 penggerobak, saat ini sudah terkumpul 646 ember dengan volume sampah organik mencapai 16,15 ton. “Targetnya bisa mencapai 25 ton dari 1.000 ember. Minimal satu penggerobak membawa satu ember khusus sampah organik,” katanya.
Menurut Rajwan, pendekatan kelurahan menjadi kunci dalam gerakan ini. Setiap wilayah diharapkan memiliki model pengelolaan sampah mandiri yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari warga, kader lingkungan, hingga pengelola bank sampah. Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot optimistis pengelolaan sampah di Jogja dapat berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan, serta mengurangi beban TPA secara signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BNPB menyebut kondisi kekeringan DIY masih relatif aman. Pemantauan krisis air dan hotspot terus dilakukan untuk mengantisipasi bencana.
Piala AFF 2026 memasuki fase semifinal! Singapura vs Thailand dan Malaysia vs Vietnam. Thailand lolos dengan nilai sempurna, Vietnam juara Grup A. Cek jadwal le
Honor resmi luncurkan Robot Phone dengan gimbal titanium terkecil di industri. Kamera 200 MP bisa bergerak 4 arah, rekam 4K, dan punya 100 ekspresi wajib.
Putri Anne mengaku kembali menjadi murid Yesus saat menjawab pertanyaan netizen soal hijab. Ia juga buka suara mengenai pandangannya terhadap pernikahan setelah
Petenis Indonesia Janice Tjen masuk unggulan ke-32 Cincinnati Open 2026. Status ini membuatnya langsung lolos ke babak kedua. Simak jadwal dan daftar pesaingnya
Cristiano Ronaldo kembali ke Al Nassr usai menikahi Georgina Rodriguez. Rambut emas barunya jadi sorotan, sementara target 1.000 gol menantinya di musim 2026/20