Sri Sultan Jalani Cuti Kesehatan, Paku Alam X Jadi Plh Gubernur DIY
Sri Sultan Hamengku Buwono X menjalani cuti kesehatan hingga 1 Juli 2026. Paku Alam X ditunjuk sebagai Plh Gubernur DIY untuk menjalankan tugas harian.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo (tengah) saat rapat koordinasi pengelolaan sampah di Balai Kota Jogja, Senin (13/10/2025). Ist/ Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja memperkuat upaya pengelolaan sampah dari hulu dengan mendorong pemilahan sejak di tingkat rumah tangga. Melalui gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos), warga diminta memilah sampah organik agar hanya residu yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju kemandirian pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menargetkan hingga akhir 2025 volume sampah yang dikirim ke depo dapat ditekan hingga 60 ton per hari.
“Rekonstruksi sosial itu butuh proses, tetapi tetap harus dilakukan. Sekarang kami mengajak dan menggerakkan masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah. Mas Jos bukan sekadar ajakan, tapi Pemkot juga membangun sistem dan memfasilitasi hingga tingkat rumah tangga,” ujar Hasto dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah di Balai Kota Jogja, Senin (13/10/2025).
Sebagai tindak lanjut, Pemkot menyiapkan lokasi transit di setiap kelurahan untuk proses pemilahan ulang oleh penggerobak. Tempat ini akan memastikan hanya residu yang dibawa ke depo atau TPA.
“Pemilahan kembali di tempat transit sangat diperlukan untuk menekan jumlah sampah yang dibawa ke depo. Tidak dipungkiri, masih ada plastik atau bahan lain yang sebenarnya bisa dibersihkan dan dimanfaatkan,” kata Hasto.
Tak hanya mengandalkan partisipasi warga, Pemkot juga memfasilitasi 1.200 penggerobak dengan dua ember khusus sampah organik sisa dapur. Upaya ini dilengkapi dengan program pembinaan di 45 kelurahan melalui perangkat daerah, termasuk penyediaan galon bekas sebagai wadah pengumpulan sampah organik. Edukasi pemilahan pun terus digencarkan untuk membentuk kebiasaan baru masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Rajwan Taufiq, mengungkapkan pengumpulan ember organik masih terus berlangsung. Dari 1.200 penggerobak, saat ini sudah terkumpul 646 ember dengan volume sampah organik mencapai 16,15 ton. “Targetnya bisa mencapai 25 ton dari 1.000 ember. Minimal satu penggerobak membawa satu ember khusus sampah organik,” katanya.
Menurut Rajwan, pendekatan kelurahan menjadi kunci dalam gerakan ini. Setiap wilayah diharapkan memiliki model pengelolaan sampah mandiri yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari warga, kader lingkungan, hingga pengelola bank sampah. Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot optimistis pengelolaan sampah di Jogja dapat berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan, serta mengurangi beban TPA secara signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sri Sultan Hamengku Buwono X menjalani cuti kesehatan hingga 1 Juli 2026. Paku Alam X ditunjuk sebagai Plh Gubernur DIY untuk menjalankan tugas harian.
Bareskrim menyelidiki 15 perusahaan yang diduga menjadi sponsor 321 WNA dalam kasus sindikat judi online Hayam Wuruk.
Xpeng G6 AWD resmi meluncur di Indonesia dengan motor ganda, tenaga 358 kW, akselerasi 4,13 detik, dan identitas baru Black Edition.
Prof Sarwidi menilai mitigasi gempa menjadi penentu dampak bencana. Perbedaan kerusakan di Venezuela dan Jepang menjadi pelajaran bagi Indonesia.
Simak contoh surat referensi kerja yang benar, fungsi, manfaat, serta format resmi yang dapat meningkatkan peluang diterima di perusahaan.
Rektor Prof. Hari Purnomo mengajak alumni membangun growth mindset untuk menghadapi AI dan tantangan global.