PETERNAKAN KULONPROGO : Impor Daging Resahkan Peternak Lokal

Seorang peternak memberikan pakan untuk sapi di Dusun Blimbing, Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo, Rabu (19/4/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
19 April 2017 23:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Peternakan Kulonprogo terganggu dengan isu impor daging sapi

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Kebijakan pemerintah melakukan impor daging kerbau meresahkan kalangan peternak lokal. Harga jual daging impor yang jauh lebih murah dinilai dapat memicu persaingan tidak sehat dan membuat mereka merugi.

Seorang peternak bernama Olan Suparlan mengungkapkan, usaha penjualan sapi sudah lesu sejak Januari kemarin. Permintaan dari wilayah Jakarta dan Jawa Barat yang selama ini jadi andalan bahkan nihil selama hampir empat bulan belakangan.

“Sama sekali tidak ada karena mereka sudah ada daging dari luar. Harga sapi lokal jadi terpuruk. Harga turun sekitar 15 persen atau rata-rata Rp2 juta,” kata Olan saat ditemui di rumahnya, Dusun Blimbing, Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo, Rabu (19/4/2017).

Olan memaparkan, sebelumnya dia mesti menyetok sapi minimal sebanyak 100 ekor setiap bulan. Namun, saat ini bisa menjual 30 ekor saja sudah bagus. Kondisi itu karena dia hanya melayani kebutuhan pasar lokal yang memang tidak banyak. Menurutnya, hal serupa juga dialami pedagang sapi di daerah lain. Daya beli masyarakat turun karena biaya perawatan sapi tetap tinggi. Peternak khawatir nantinya tidak dapat untung jika mesti bersaing dengan rendahnya harga daging impor.

Harga daging kerbau impor diketahui bisa mencapai Rp65.000 per kilogram (kg). Angka itu jauh lebih murah dibanding daging sapi lokal yang rata-rata dijual seharga Rp100.000-Rp115.000 per kg. Olan berpendapat, kesenjangan harga itulah yang membuat peternak maupun pengusaha sepertinya was-was.

“Kebutuhan rutin setiap tahun untuk Idul Adha itu banyak tapi peternak bisa saja malas memelihara sapi kalau harganya rendah,” ujar Olan kemudian.