Penambangan di Lereng Merapi yang Tewaskan 3 Orang Ditutup Sementara

Truk-truk pengangkut pasir bergegas turun saat kawasan tersebut didatangi sejumlah anggota DPRD Sleman yang melakukan sidak di lokasi penambangan pasir ilegal di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Kamis (22/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI - Harian Jogja)
07 Mei 2017 14:20 WIB Sleman Share :

Potensi longsor di lokasi penambangan di Lereng Merapi masih kemungkinan besar terjadi

Harianjogja.com, SLEMAN- Runtuhnya tebing Kali Gendol, Glagaharjo, Cangkringan pada Jumat (5/5/2017) menyebabkanhttp://m.harianjogja.com/?p=814803"> tiga orang tewas. Peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi para penambang agar tidak menambang dekat tebing.

Agar kasus serupa tidak terjadi, aktivitas di wilayah tersebut dihentikan untuk sementara waktu. Sebab, potensi longsor di lokasi tersebut masih kemungkinan besar terjadi. Pasalnya, pada Jumat kemarin tercatat dua kali longsor di tebing penambangan Kaligendol itu.

Longsor pertama terjadi pukul 09.10 WIB di kawasan Kali Tengah Kidul. Seorang penambang, Purwanto, 33, warga Morangan Sindumartani Ngemplak, tertimbun material pasir yang longsor. Korban dibawa ke RS Panti Nugroho dan dinyatakan meninggal dunia.

Sejam kemudian, longsor kedua terjadi di wilayah Kalitengah Lor. Jika logsoran di Kalitengah Kidul tidak terlalu parah namun tetap memakan korban jiwa. Longsor yang terjadi di Kalitengah Lor kondisinya cukup parah.

Dua warga Kepuharjo, meninggal akibat tertimbun material tambang. Masing-masing Isti Mulyaningsih, 26. Isti, meninggal bersama Berlyan Budhie Ananta, 4, anak semata wayang hasil pernikahannya dengan Budi Maryanto.

Saat itu, Isti bersama anaknya, sedang menunggu Budi Maryanto menambang pasir di lokasi tersebut. Mereka berteduh dari panas di tepian tebing. Naas, tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba tebing tambang yang curam runtuh. Tebing yang longsor mencapai ketinggian sekitar 30-an meter dengan lebar 10 meter. Ratusan kubik pasir, batu dan tanah itu menewaskan Isti dan anaknya.

Menurut Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto, peristiwa tersebut diharapkan menjadi pelajaran bagi penambang agar selalu waspada. Untuk sementara aktivitas penambangan di sana ditutup, karena material pasir di lokasi masih dikeruk dengan alat berat.

"Kami berharap kepada para penambang manual supaya waspada dan jangan nambang dekat tebing dan kalau istirahat jangan berteduh di tebing rawan longsor," kata Heri, Sabtu (6/5/2017).

Kepala Balai Pengawasan dan Pengendalian Perijinan ESDM (P3ESDM) Wilayah Sleman, Agung Satria mengatakan pihaknya belum melakukan pendataan teknis terkait potensi titik longsor di sepanjang Kaligendol.

"Kami belum pernah melakukan pengamatan [potensi longsor] di wilayah tersebut, karena seluruh sungai di DIY di bawah pengawasan/kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai [BBWS] Serayu-Opak," jawabnya kepada Harianjogja.com.

Saat ini, kata Agung, pada lokasi-lokasi Wilayah Usaha Pertambangan di Kali Gendol banyak dijumpai pengambilan/penambangan material pasir dan batu oleh masyarakat. Aktivitas penambangan dilakukan secara manual.

Sebenarnya, kata Agung, pihaknya sering mengingatkan kepada para penambang agar tidak melakukan aktivitas penambangan di lokasi-lokasi yang dinilai rawan longsor.