Pedagang Pasar Sore Setan Mengeluh Kehilangan Pembeli

Sejumlah petugas membongkar lapak pedagang Pasar Setan, Maguwoharjo yang berada di tepi jalan pada Rabu (3/5/2017). (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
12 Mei 2017 19:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika Sleman Share :

Para pedagang di pasar sore Setan, Maguwoharjo banyak yang mengeluh karena omzet yang semakin menurun

Harianjogja.com, SLEMAN--Para pedagang di pasar sore Setan, Maguwoharjo banyak yang mengeluh karena omzet yang semakin menurun sejak direlokasi dari tempat mereka semula berjualan.

Awalnya para pedagang ini berjualan di trotoar jalan. Kemudian pada Rabu (3/5/2017) mereka sebagian dipindahkan ke dalam pasar, dan sisanya menempati tempat di sisi barat pasar untuk kemudian dikenal dengan nama pasar sore.

Sri, pedagang sayur di pasar sore Stan mengaku pendapatnya akhir-akhir ini jauh berkurang bila dibandingkan saat dulu berjualan di trotoar jalan. Ia menduga yang menjadi penyebab dari menurunya omzet penjualan adalah ketidaktahuan pembeli mengenai kepindahan pedagang.

“Saya tidak sempat memberi tahu pembeli kalau akan dipindahkan karena digusurnya tiba-tiba. Memang dikasi tahu sebelumnya, tapi waktu tepatnya kapan tidak diberi tahu,” katanya saat ditemui Kamis (11/5/2017).

Ia mengatakan, selama delapan hari semenjak pertama kali digusur, pembeli yang menyambangi tempatnya hanya mereka yang benar-benar merupakan pelanggan setia yang sudah kenal dirinya bertahun-tahun.

Padahal, menurutnya, sumber pendapatan terbesar datang dari mahasiswa dan mahasiswi. “Kalau berdagang di pinggir jalan anak-anak kuliahan banyak yang belanja. Kalau disana sejam uda habis. Sekarang anak kuliahan belum ada yang belanja kesini,” keluhnya.

Sri mengaku dulu dalam sehari ia bisa menghasilkan uang sebanyak Rp300.000 sampai Rp400.000 di hari kerja. Sedangkan saat akhir pekan pendapatannya meningkat jadi Rp700.000. Tapi sejak dipindahkan, ia mengaku penghasilannya hanya Rp100.000 sampai Rp150.000 per hari.

Ia juga menyampaikan akhir-akhir ini dagangannya banyak yang harus dibuang karena tidak laku. ”Mau jual cabai saja saya enggak berani. Takut rugi. Kalau dipikir, ya, lebih enak disana. Tapi sudah enggak boleh ya gimana lagi,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Agus, pedagang ayam di pasar sore Stan. Dulu saat berjualan di trotoar jalan, ia mengaku bisa menjual sampai 150 ekor per hari. Tapi, kini, dalam sehari ia hanya bisa menjual 100 ekor dari pagi sampai malam.

“Beda jauh [pendapatannya]. Kalau dulu orang lewat langsung beli. Kalau disini enggak ada orang yang lewat. Sekarang ngandalin langganan aja,” katanya.

Ia menduga salah satu penyebab kenapa pasar sore Setan cenderung sepi karena di sebelah timur juga ada pasar sore yang dikelola pribadi. Agus menyarankan sebaiknya kedua pasar sore itu digabung supaya kedua belah pihak mendapatkan keuntungan yang sama.

Meski begitu, ia optimis pasar sore Setan kedepan bisa bertambah rame. Menurutnya, semua butuh waktu. “Kalau uda pada tahu, pasti masuk sini,” katanya.