Dari Kain Perca Jadi Kalung Bernilai Jual Tinggi

Salah satu karyawan menunjukkan koleksi kalung batik di Jogja City Mall (JCM), Jumat (5/5/2017). Kalung dari kain perca ini diproduksi oleh Javanic Batik. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
14 Mei 2017 11:21 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Kain perca menjadi sampah yang sangat berharga bagi Anastasia Rita

 

Harianjogja.com, SLEMAN-Kain perca menjadi sampah yang sangat berharga bagi Anastasia Rita. Baginya, sisa potongan kain itu bisa dikreasikan lagi menjadi produk aksesoris bernilai jual tinggi.

Rita sendiri sudah memulai bisnis penjualan baju batik sejak 1,5 tahun. Melalui brand Javanic Batik, ia banyak memproduksi pakaian jadi dari bahan batik motif klasik, mulai kawung sampai motif parang.

Pembuatan pakaian ready to wear itupun menyisakan tumpukan kain perca yang sudah tak bisa lagi dijahit menjadi pakaian. Saat melihat tumpukan kain perca itu, ia berinisiatif untuk mengkreasikannya menjadi kalung. Kegiatan ini dimulai sekitar enam bulan yang lalu.

“Inspirasinya karena sekarang baju yang sedang diluncurkan adalah Javanic Batik motifnya wayang dengan model kulot, rok, dress, maka kami memikirkan asesorisnya supaya matching,” kata Rita pada Harianjogja.com, Jumat (5/5/2017).

Kalung yang ia ciptakan dilengkapi dengan gantungan wayang dari bahan kulit dan kayu. Ia ingin menyajikan aksesoris yang lekat dengan budaya Jawa. Selain itu, ia juga mengaplikasikan manik-manik untuk mempercantik kalung.

Kalung batik itu pun mengundang minat konsumen untuk memiliki. Rita akhirnya kebanjiran order, sampai-sampai material kulit percanya sudah tidak cukup lagi. “Akhirnya kita pakai kain utuh,” tuturnya.

Bermodalkan gethok tular, usaha kalung batiknya semakin laris. Dalam sebulan ia bisa memproduksi sampai 300 kalung dengan harga jual Rp90.000-Rp350.000. Pasar terbesarnya datang dari Jogja, Medan, Palembang, dan Jakarta.

Tidak hanya untuk dipakai sendiri, kalung batik dari Javanic Batik ini juga digunakan sebagai suvenir. Khusus untuk suvenir, ia berencana menyajikannya dalam kemasan yang menarik, menggunakan kotak dan pita. Biasanya pemesanan untuk suvenir bisa mencapai 500 kalung setiap pemesanan.

Model yang ia tawarkan pun beragam. Tidak hanya model kalung, tetapi juga model syal yang tetap dilengkapi dengn gantungan. Menurutnya, pengusaha di bidang kerajinan harus bisa terus mengasah otak untuk berinovasi agar memunculkan daya tarik bagi konsumen.