Puluhan Gunungan Meriahkan Nyadran Agung di Kulonprogo

21 Mei 2017 19:21 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Puluhan gunungan memeriahkan Nyadran Agung 2017 yang diselenggarakan Pemkab Kulonprogo

Harianjogja.com, KULONPROGO- Puluhan gunungan memeriahkan Nyadran Agung 2017 yang diselenggarakan Pemkab Kulonprogo, Sabtu (20/5/2017). Ribuan warga berdoa bersama menyambut kehadiran Ramadan yang sudah semakin dekat.

Nyadran Agung dimulai dengan kirab budaya oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta perwakilan kantor pemerintah kecamatan dan desa.

Sebanyak tiga gunungan utama terbuat dari rangkaian ratusan kue apem, sedangkan lainnya menyajikan aneka hasil bumi. Semuanya ikut dikirab dari gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kulonprogo hingga Alun-alun Wates. Seluruh gunungan kemudian dapat diperebutkan warga setelah doa bersama.

Penjabat Bupati Kulonprogo, Budi Antono mengatakan, Nyadran Agung dilaksanakan setiap tahun untuk melestarikan budaya daerah. “Ini sudah melekat dengan masyarakat Jawa dan dilakukan pada bulan ruwah sebelum bulan puasa,” ujar Budi.

Budi memaparkan, istilah nyadran berasal dari kata srada atau sasran yang berarti upacara peringatan untuk leluhur yang telah lama tiada. Masyarakat diajak untuk mengingat bahwa semua makluk yang hidup pada akhirnya akan mati sehingga harus mempersiapkan diri. Nyadran Agung bisa menjadi sarana untuk berdoa dan memohon petunjuk kepada Tuhan.

Nyadran Agung juga bermanfaat mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan. Hal itu mengingat banyaknya masyarakat yang berkumpul untuk berdoa bersama tanpa membedakan golongan maupun jabatan. Gunungan adalah simbol dari rasa syukur dan keiklasan berbagi kepada sesama.

“Nyadran Agung juga bisa membangun sikap toleransi dan gotong royong untuk kesejahteraan bersama, khususnya masyarakat Kulonprogo,” kata Budi.

Budi lalu berharap acara tahunan itu dapat terus diselenggarakan setiap tahun. Generasi mesti dibuat bangga terhadap salah satu kearifan lokal tersebut sehingga termotivasi untuk ikut melestarikannya.