Ini Sisi Positif Dibalik Potensi Rawan Bencana di Indonesia

25 Mei 2017 10:22 WIB Sleman Share :

Rawan Bencana Harus Jadi Sumber Eksplorasi

Harianjogja.com, SLEMAN - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan ada sisi positif di balik potensi rawan terjadi bencana yang mengancam Indonesia.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB  Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, potensi rawan bencana menjadikan Indonesia bisa menjadi sumber eksplorasi dan menyimpan potensi sebagai laboratorium bencana di dunia.

"Dari adanya bencana itu justru harusnya bisa menjadi sumber inovasi baru," ujar Sutopo dalam Seminar pembukaan Program Doktor Teknik Sipil FTSP UII, Selasa (23/5/2017).

Di situlah seharusnya, menurut Sutopo, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk melahirkan inovasi-inovasi baru. Sutopo memberikan gambaran ketika terjadi Perang Napoleon di Eropa yang terjadi di tahun 1800-an. Kala itu terjadi letusan Gunung Tambora di Indonesia yang efeknya terasa sampai Eropa. Efek hujan abu dan kerikil yang meluncur hingga daratan Eropa menyebabkan pasukan berkuda Napoleon mengalami kesulitan dalam perjalanan. Dari hal itulah yang lantas menginspirasi adanya penemuan sepeda sebagai pengganti sarana mobilitas berkuda.

Lebih lanjut Sutopo menjelaskan, penanggulangan bencana dianggap sebagai multidisiplin ilmu. Karenanya, azas dan prinsip dalam penanggulangan bencana ialah berbasis pada ilmu pengetahuan dan profesional serta cepat dan tepat.

Menurut Sutopo, penanggulangan bencana disebut multidisiplin karena sebagian besar bidang ilmu dan cabangnya dapat diterapkan dalam penanggulangan bencana.

"Pendekatan multidisiplin dianggap mampu menyederhanakan persoalan dan memecahkan masalah yang semula dianggap tidak mungkin diselesaikan. Karenanya, penanggulangan bencana jadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi (PT) melalui tri dharmanya," ujarnya.

Sutopo menuturkan, tri dharma perguruan tinggi  dapat diterapkan dalam penanggulangan bencana, baik pra bencana, tanggap darurat maupun pada pasca bencana. Untuk itu, pembangunan kapasitas guna penanggulangan bencana di perguruan tinggi  sangat diperlukan. Diharapkan pula terjalin saling sinergi, kolaborasi dan tidak tumpang tindih antar perguruan tinggi.

"Namun dalam penanggulangan bencana, iptek modern saja tidak cukup. Yang terbaik ialah memadukan iptek dengan kearifan lokal. Kearifan lokal di sini ialah pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang diperoleh dari proses yang panjang untuk beradaptasi dengan fenomena alam atau menyelesaikan persoalan," jelasnya.