Kebhinnekaan Terancam Robek, Sesepuh Bangsa Ingatkan Warga

dokumen
27 Mei 2017 10:22 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Sesepuh bangsa berkumpul di UC UGM untuk mengingatkan rakyat atas situasi saat ini.

Harianjogja.com, JOGJA -- Beberapa tokoh pemuka agama, budayawan, dan akademisi bertemu dan berkumpul bersama di University Club, UGM, Jumat (26/5/2017) untuk mengeluarkan maklumat bernama Seruan Sesepuh Bangsa : Untuk Perdamaian Indonesia.

Tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah Buya Ahmad Syafii Maarif, Prof Quraish Shihab, Kardinal Julius Dharmaatmaja, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahib, Ida Bagus Agung, Prof Abdul Munir, Engkus Ruswana, Mohamad Sobary, Pendeta Gomar Gulton, Bhikku Nyana Suryanadi, Kiai Haji Imam Aziz, dan Budi Suniarto.

Baca Juga : http://m.harianjogja.com/2017/05/26/sesepuh-bangsa-berkumpul-serukan-5-hal-untuk-perdamaian-indonesia-820053">Sesepuh Bangsa Berkumpul Serukan 5 Hal untuk Perdamaian Indonesia

Sebelum Seruan Sesepuh Bangsa dibacakan, masing-masing tokoh sempat mengeluarkan statemen terkait tenun kebhinnekan Indonesia yang akhir-akhir ini terancam robek.

Prof Quraish Shihab yang tidak bisa hadir dalam acara tersebut, mengatakan melalui video, bahwa Indonesia sekarang berada dalam situasi yang mencemaskan. Ia mengatakan masyarakat patut bersyukur karena kondisi Indonesia tidak separah beberapa negara di Timur Tengah, tapi ia mewanti-wanti, ketika kondisi seperti ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kondisi Indonesia bisa memburuk.

Ia melanjutkan agama yang seharusnya menampilkan wajah yang alim, akhir-akhir ini berubah menjadi alat yang digunakan segelintir orang untuk menyebarkan kebencian dan kekerasan.

“Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah menyadarkan diri sendiri, keluarga, dan bangsa supaya tetap satu dalam kedamaian dan kebhinnekaan. Dan jangan jadi setan yang membisu. Sampaikan sikap saat melihat sesuatu yang tidak baik, tapi dengan cara yang anggun dan santun,” jelasnya.

Sementara Kardinal Julius Dharmaatmaja menyampaikan pentingnya menjaga persaudaraan antara sesama manusia, tidak peduli latar belakangnya seperti apa. Ia mengatakan, menghormati manusia sekaligus merupakan penghormatan kepada Tuhan yang telah menciptakan manusia.

“Kalau mau menghormati Tuhan, hormatilah manusia. Kesalehan itu tidak hanya diukur dari doa, tapi perlakuan kita terhadap sesama. Apapun yang kita lakukan, aspek yang harus ada adalah menghormati sesama,” ujarnya.

Forum ini sendiri dilaksanakan karena kehidupan berbangsa yang akhir-akhir ini sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Proses mengupayakan negara demokrasi yang matang diguncang oleh situasi politik yang tampak jauh dari kesantunan dan adab mulia, melainkan sajian drama saling serang antar kubu yang berseberangan.

Akhirnya masyrakat menjadi tidak tabu pada ujaran kebencian serta tidak malu-malu lagi untuk adu caci maki di hadapan publik. Situasi tersebut, menurut para penggagas acara ini seperti Jerry Sumampouw, Romo Benny Susetyo, Defy Indiyanto, dan Alissa Wahib tidak boleh dilanggengkan.

“Para sesepuh bangsa ini telah mengikuti perjalanan kehidupan berbangsa, melampaui beberapa momen sejarah. Dalam kondisi saat ini, kita membutuhkan percikan kearifan dan inspirasi dari beliau-beliau, agar perjalanan bangsa kita bisa kita jaga pada arahnya,” jelas Alissa Wahib.