Petani Masih Salah Persepsi tentang Tanaman Organik

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Selasa, 19 September 2017 17:20 WIB
Petani Masih Salah Persepsi tentang Tanaman Organik

JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Operator traktor tangan mengolah tanah sawah di areal persawahan di Godean, Sleman, DI. Yogyakarta, Kamis (26/06/2015). Dewasa ini para pemilik lahan pertanian semakin sedikit yang menggunakan jasa ternak sapi atau kerbau sebagai tenaga untuk membajak sawah, perannya tergantikan oleh traktor mesin yang dijual dengan kisaran harga Rp 7 hingga 21Juta per unit. Harga jasa mengolah lahan dengan traktor terbilang lebih murah daripada menggunakan hewan ternak.

Masyarakat Petani Organik Indonesia (Maporina) DIY menargetkan tiga prioritas dalam menjalankan programnya

Harianjogja.com, SLEMAN-Masyarakat Petani Organik Indonesia (Maporina) DIY menargetkan tiga prioritas dalam menjalankan programnya. Salah satunya berkaitan dengan salah persepsi yang masih terbangun di kalangan petani mengenai keberadaan tanaman organik.

Tiga program itu berkaitan dengan lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan petani. Djoko Sidik Promono, Ketua Umum Maporina Pusat mengatakan masih ada sebagian kalangan petani yang memiliki persepsi salah bahwa tanaman organik berdampak buruk pada kesejahteraan.

“Pemanfaatan tanaman organik yang maksimal juga dikatakan dapat berdampak baik pada kesejahteraan petani,” katanya, Senin (18/9/2017).

Padahal, tanaman organik kini semakin dikenal dan dicari oleh konsumen. Secara khusus, ia menyebutkan jika sejumlah negara maju kini sudah menjadi pasar yang potensial bagi tanaman tanpa bahan kimi itu.

Selain itu, penggunaan pupuk non organik pada tanaman yang berimbas pada rusaknya tanah di wilayah itu. Tanah yang banyak diberikan pupuk kimia menurutnya akan pecah-pecah pada musim kemarau.

Lebih lanjut, tanah tersebut juga berpotensi longsor ketika diguyur hujan pada musim penghujan. Dari segi kesehatan, ia juga mengungkapkan jika ketersediaan pangan yang sehat seharusnya sejalan dengan pertumbungan penduduk yang ada. Kondisi terkini ialah banyak bahan makanan yang sifatnya sintetis termasuk telur dan beras yang sebenarnya banyak membahayakan tubuh.

Bupati Sleman, Sri Purnomo mengatakan pelestarian tanaman organik akan mendorong masyarat untuk semakin tertarik untuk mengkonsumsinya. “Maka akan menyehatkan tubuh kita, kemudian bisa berumur panjang,” katanya.

Pemkab Sleman sendiri bersama dengan para petani telah berupaya untuk menanam beras secara organik melalui program Mina Padi. Meskipun harga beras organik di pasaran cenderung lebih mahal namun bupati berpendapat jika masyarakat sudah mulai memahami bahwa beras organik berkhasiat untuk menjaga kesehatan tubuh konsumen.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online