Gempa Jadi Prioritas Penanggulangan Bencana di Sekolah

08 Desember 2017 06:55 WIB Sunartono Jogja Share :

SSB disiapkan sebagai salah satu upaya mitigasi bencana di setiap sekolah

Harianjogja.com, JOGJA-Dinas Pendidikan Kota Jogja merespon potensi bencana dengan membentuk sekolah siaga bencana (SSB) pada 2016 silam. Kegiatan pelatihan mitigasi di sekolah terutama jenjang SD dan SMP masih fokus pada jenis bencana gempa bumi.

Kabid Pendidik Tenaga Kependidikan Data dan Informasi Dinas Pendidikan Kota Jogja Samiyo menjelaskan, SSB disiapkan sebagai salah satu upaya mitigasi bencana di setiap sekolah. Tidak hanya memberikan sosialisasi dan bentuk bantuan material ke sekolah, namun pihaknya mendorong sekolah untuk mampu memahami dan melaksanakan upaya pencegahan bencana itu dengan melakukan simulasi.

"Maka, tahun ini kami menyelenggarakan lomba sekolah siaga bencana," terangnya kepada Harian Jogja, Kamis (7/12/2017).

Perlombaan itu, kata dia, untuk memberikan pembekalan kepada semua warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, siswa hingga petugas administrasi agar mempunyai kesiapan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam.

Warga sekolah diharapkan mampu dalam memanajemen mitigasi bencana, paling tidak jika peristiwa itu terjadi dapat meminimalisasi jumlah korban. Adapun bentuk perlombaan tersebut adalah simulasi bencana gempa bumi.

Pihaknya sengaja memiliki simulasi gempa bumi karena masih fokus pada jenis bencana tersebut. Karena gempa bumi tida bisa diprediksi dan sewaktu-waktu dapat terjadi meski saat siswa di sekolah tengah dalam proses pembelajaran.

"Karena gempa bumi termasuk paling tidak dapat diprediksi dan itu tiba-tiba, apalagi kita pernah mengalaminya di tahun 2006, sekaligus untuk menghilangkan trauma. Maka kami membuat persiapan sebaik mungkin, seandainya terjadi tetapi semoga tidak [terjadi], sehingga ada persiapan penanganan," ungkap dia.

Samiyo menambahkan, dalam program SSB itu sebanyak 14 SMP dan 14 SD negeri di Kota Jogja dilibatkan. Semua sekolah yang terlibat diberikan bantuan semacam kit SSB, peralatan untuk menghadapi bencana. Sebelum pelaksanaan lomba SSB tersebut, pihaknya lebih dahulu membina sekolah-sekolah tersebut. Dinas Pendidikan Kota Jogja akan memutuskan pemenang SSB yang dianggap sebagai sekolah paling siap dalam melakukan mitigasi.

Terpisah Kepala SMPN 5 Jogja Suharno menyatakan, pihaknya telah melakukan simulasi pada Rabu (6/12) lalu dengan melibatkan ribuan siswanya. Siswa sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. "Siswa ternyata melaksanakan dengan serius semuanya, jadi seolah-olah benar terjadi gempa. Kebetulan ada dukungan ambulan dari RS DKT juga," kata dia.

Ia menilai, ada manfaat ke depan melalui program SSB tersebut. Paling tidak sekolah akan lebih waspada bencana, sekaligus tahu bagaimana cara menyelamatkan diri setiap perorangan ketika terjadi gempa bumi. Program simulasi disarankan rutin diadakan tidak hanya setahun sekali, tetapi sebaiknya setiap semester dapat digelar, sekaligus sebagai pengingat bahwa dalam situasi apapun bencana bisa saja terjadi dan perangkat sekolah harus siap.

"Sebelumnya memang diberikan bantuan beberapa alat, seperti untuk evakuasi," ungkap dia.