Jalan Watusigar-Nglipar Rusak Sejak 1997, Warga Minta Diperbaiki
Jalan Watusigar-Nglipar rusak sejak 1997. Warga berharap akses diperbaiki, sementara tahun ini baru direncanakan pengerjaan sekitar 100 meter.
Pemdes berdalih keluarga Dila hanya diminta pindah ke daerah asal.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Pemerintah Desa (Pemdes) Girisuko, Kecamatan Panggang membantah adanya dugaan persekusi terhadap bayi bernama Dila Putri dan keluarganya. Warga Bibal, Dusun Sumber, Girisuko hanya meminta keluarga tersebut pindah ke tempat asal mereka di wilayah Dusun Karangnongko, Giripurwo, Purwosari.
Kepala Desa Girisuko Endah Herwanti mengatakan pihaknya sudah mendengar kabar terkait dengan masalah yang dihadapi keluarga Dila Putri. Menurut dia, warga Bibal hanya meminta keluarga tersebut pindah ke tempat asal karena mereka merupakan warga pendatang dari Dusun Karangnongko, Giripurwo, Purwosari. “Informasi yang saya peroleh, permintaan pindah karena perilaku dari anggota keluarga yang kurang baik,” kata Endah Jumat (19/1/2018).
Menurut dia, di awal kedatangan ke Bibal warga menyambut dengan baik. Bahkan saat pindah, warga membantu membuatkan rumah bagi keluarga Suwarni. “Untuk segala hal menyangkut kependudukan juga diberikan kemudahan. Ini dilakukan agar warga itu [Suwarni dan keluarga] dapat hidup mapan dan layak,” ungkapnya.
http://m.solopos.com/?p=886458">Baca juga : Polisi Cari Ibu Penelantar Bayi Dila
Hanya saja, sambung dia, setelah menetap di Bibal ada gelagat kurang baik dari salah satu anggota keluarga. Puncaknya terjadi sekitar satu bulan lalu saat keluarga Suwarni membawa pulang bayi (Dila Putri) yang diketahui sebagai hasil hubungan di luar nikah yang dilakukan Suprihatin (anak Suwarni). “Setelah kejadian itu, warga meminta keluarga Suwarni untuk pulang ke Purwosari. Adapun permintaan ini tidak lepas adanya perilaku yang kurang baik yang dilakukan oleh anggota keluarga itu,” imbuh Endah.
Seperti diberitakan sebelumnya, bayi malang Dila Putri ditemukan hidup telantar bersama nenek buyutnya Sumilah, 75 di Imogiri, Bantul. Bayi tiga bulan itu hanya diberi minum air teh oleh nenek buyutnya lantaran tak mampu membeli susu. Keluarga Dila (nenek Dila bernama Suwarni alias anak Sumilah) dikabarkan diusir dari Gunungkidul dan pindah ke Imogiri.
Tindakan persekusi alias main hakim sendiri yang dilakukan oleh warga di Gunungkidul itu karena tidak terima ada bayi yang lahir dari hasil hubungan gelap di Pedukuhan Bibal Dusun Sumber Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Nahasnya, ibu Dila Suprihatin justru tak peduli dengan anaknya dan pergi meninggalkan Dila serta tak diketahui keberadaanya saat ini.
Kemudian di Imogiri, giliran Dila dan nenek buyutnya yang diusir keluarganya sendiri hingga ditemukan warga telantar di dekat terminal makam raja Imogiri pada Kamis (18/1/2018). Sumilah saat itu tengah menjual tiga helai jarik miliknya untuk biaya membeli susu cicitnya.
http://m.solopos.com/?p=886163">Baca juga : Kisah Pilu Nenek Renta Diusir dan Hidup Terlantar, Rawat Bayi Seorang Diri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jalan Watusigar-Nglipar rusak sejak 1997. Warga berharap akses diperbaiki, sementara tahun ini baru direncanakan pengerjaan sekitar 100 meter.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 6 September 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal lengkap hingga tiba di Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 6 September 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Cek jam keberangkatan dan tarif Rp8.000.
Berikut 12 mobil Jepang yang dikenal irit BBM di Indonesia, mulai dari Brio, Ayla, Sigra hingga Yaris Cross Hybrid dan Innova Zenix Hybrid.
Bappenas dan Dewan Pers memperkuat sinergi untuk membangun ekosistem pers BEJO’S sebagai mitra strategis pembangunan nasional.
Sejumlah reklame di Sleman ditutup karena belum membayar pajak. Penertiban sejak Juli 2026 mulai mendorong pemilik reklame melunasi kewajibannya.