Ini Sebagian Uneg-Uneg Warga Terkait Bandara NYIA

26 Januari 2018 15:20 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Sarasehan Sehari Pentingnya Pembangunan Bandara dan Permasalahan yang Ada Terkait dengan Pembangunan NYIA, digelar di Balai Desa Glagah

Harianjogja.com, KULONPROGO- Sarasehan Sehari Pentingnya Pembangunan Bandara dan Permasalahan yang Ada Terkait dengan Pembangunan NYIA, digelar di Balai Desa Glagah, Kamis (25/2/2018).

Baca juga : http://m.harianjogja.com/?p=887983">BANDARA KULONPROGO : Ini Jumlah Warga Penolak NYIA yang Masih Bertahan

Kegiatan tersebut menghadirkan perwakilan Pemkab Kulonprogo, PT Angkasa Pura (AP) I, Badan Pertanahan Nasional (BPN), PT Pembangunan Perumahan (PP) dan warga terdampak New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Mantan anggota Wahana Tri Tunggal (WTT) Sugito mengatakan, pembangunan NYIA masih banyak menyisakan persoalan. Misalnya saja adanya rumah warga bekas anggota WTT yang sudah dirobohkan, padahal mereka belum mendapat ganti rugi, bahkan belum mendapat kejelasan nilai ganti rugi lahan.

"Jadi kami harus mengontrak, harga sewanya sangat mahal. meminta adanya solusi dari persoalan ini," ungkapnya.

Mantan anggota WTT yang lainnya, Suhardiman mengungkapkan bahwa, ia mendatangi Pengadilan Negeri Wates pada 4 Desember 2017 lalu, setelah mendapat panggilan terkait konsinyasi. Kendati demikian ia sangat terkejut karena begitu sampai di rumah, melihat sudah ada tulisan yang dipasang di rumahnya bahwa ia harus meninggalkan rumah pada hari yang sama.

"Saat itu kami belum memiliki persiapan apa-apa, tapi terpaksa harus pergi padahal belum menerima ganti rugi apapun. Kemudian saya mengontrak dan membayarnya sendiri," terangnya.

Warga Dusun Bebekan, Desa Glagah, Agung Supriyanto menyayangkan tidak adanya keterbukaan tentang kesempatan bekerja di dalam proyek NYIA. Ketika bertanya kepada PT PP untuk menjadi staff, jaga malam atau buruh kasar, seakan tidak pernah ada jawaban pasti.

"Tidak seluruh warga dari Glagah hingga Congot itu mendapat uang ganti rugi penggusuran. Apalagi mereka itu adalah orang-orang yang mata pencahariannya sudah tercabut,, kami minta keterbukaan atau minimal diberikan jalan [rezeki]," kata dia.

Bayu Putro Puspo Pangaribowo, yang juga warga Glagah mengutarakan kekesalannya terhadap tim proyek yang saat ini tidak manusiawi dalam menghadapi warga terdampak NYIA.

Sebelumnya, tim proyek selalu mendatangi dan mengobrol dengan warga terdampak soal NYIA, namun ketika warga sudah sepakat ikut program pembebasan lahan, tim tidak pernah mengajak warga berbicara atau tatap muka. Apapun kebijakan dan informasi terbaru perihal tahapan proyek NYIA disampaikan dalam bentuk spanduk atau banner.

"Sedikit-sedikit banner, sedikit-sedikit spanduk. Kami ini manusia, bisa diajak berbicara," terangnya.