Masalah Gizi Karena Keburu Mengenal Rasa Manis

30 Januari 2018 13:55 WIB Irwan A Syambudi Sleman Share :

Di DIY ribuan anak balita menderita stunting atau tubuh pendek

Harianjogja.com, SLEMAN-Di Kabupaten Asmat, Papua, wilayah ujung timur Indonesia, puluhan anak meninggal akibat gizi buruk dan campak belum lama ini. Ratusan kilometer dari Asmat, di DIY ribuan anak balita menderita stunting atau tubuh pendek, salah satunya karena gizi buruk. Melalui penanganan yang tepat, mereka sebenarnya bisa tumbuh tinggi seperti anak-anak lain.

Satu dari 8.211 bocah yang menderita stunting di Sleman adalah Firas Rifai, 4,5. Mulanya tak ada tanda-tanda aneh kala Tini Handayani, 29, melahirkan anak pertamanya, Firas, empat setengah tahun lalu. Dia merasa dalam kondisi sangat baik pada suatu  malam di pertengahan 2012 itu. Kontraksi yang mulai dirasakan diangapnya biasa, hanya sebagai pertanda bakal lahirnya sang jabang bayi.

Dari rumahnya di Dusun Janturan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, malam itu Tini dibawa oleh suaminya, Triyatmoko, 35, menuju rumah bersalin yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari rumahnya. Tini cukup tenang. Selepas subuh, bayi yang kemudian diberi nama Firas keluar dari dalam rahimnya.

Senang bukan kepalang Tini melihat oroknya sehat dan lahir dengan proses yang normal. Firas lahir ke dunia dengan tinggi 48 sentimeter dan berat 3,8 kilogram. Namun, postur itu masih di bawah standar bayi laki-laki ideal yang semestinya 49,9 cmsentimeter. “Dari anak-anak seumurannya memang Firas lebih pendek,” kata Tini kepada Harianjogja.com, Minggu (28/1/2018).

Kala hamil muda, Tini mengaku telah mengonsumsi segala jenis nutrisi yang sepanjang pengetahuannya baik untuk pertumbuhan janin. Sayuran hijau, ikan, hingga buah-buahan rutin dia santap. Meski tabungannya cekak, dia selalu mengusahakan untuk sekadar makan ikan nila ataupun lele. Pengahasilannya dari menjahit dan pendapatan suaminya yang bekerja sebagai penjaga rental playstation dia curahkan untuk memastikan sang jabang bayi lahir sehat.

Namun demikian kebiasaannya mengudap keripik tak pernah dia tinggalkan. “Sejak hamil, saya selalu menjaga makanan. Ketika bayi saya sudah lahir ASI tidak pernah putus. Mungkin memang faktor keturunan karena orang tuanya tidak tinggi,” ujarnya.

Tini bertinggi satu setengah meter dan suaminya sekitar 160 sentimeter. Dia meyakini hal itu menjadi penyebab utama badan putranya cenderung pendek. Tini toh berikhtiar agar Firas bisa tumbuh lebih dari ibu dan bapaknya.
Beberapa bulan lalu, Firas diberi multivitamin khusus yang ditaburkan ke makanan untuk membantu pertumbuhannya. Sekelompok peneliti dari Departemen Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar kajian dan intervensi terhadap tumbuh kembang Firas.

Menurut Ketua Departemen Gizi UGM Toto Sudargo, Firas merupakan balita yang menderita stunting. Kondisinya sehat, tetapi pertumbuhannya dinilai tidak optimal. Selain faktor kekurangan gizi, stunting yang terjadi pada Firas memang bisa saja terjadi karena faktor genetik. Toto yakin, stunting yang dialami Firas dapat hilang. “Kalau dia diberi gizi yang baik, sangat mungkin pertumbuhannya akan ideal,” kata dia.

Setelah tubuhnya diasup multivitamin dan telur saban hari, dalam tiga bulan Firas bertambah tinggi antara tiga dan lima sentimeter.

Masalah Kompleks
Gizi buruk yang akibatnya adalah stunting tak terlalu banyak di Sleman, proporsinya adalah 11.9% dari seluruh bayi. Dua wilayah dengan persentase anak balita tubuh pendek terbesar di DIY adalah Gunungkidul dan Kulonprogo. Di Kulonprogo, sekitar 3.500 anak atau lebih dari 20% anak menderita stunting. Jumlah itu cukup tinggi sehingga, menurut Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kulonprogo Suhartini, Pemerintah Pusat akan mengintervensi penanganan gizi buruk di salah satu kabupaten termiskin di DIY.

Satu desa yang menjadi fokus penanganan masalah gizi adalah Tuksuno di Kecematan Sentolo. Ada sekitar 40 anak balita yang bertubuh pendek, tiga di antara mereka tinggal di Dusun Karang. “Mereka [keluarga penderita stunting] tidak miskin, meski juga tidak kaya. Biasa saja,” ujar Sulastri, kader Posyandu Desa Tuksono.

Sulastri mengajar di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dan TK ABA Dusun Karang. Menurut dia, tiga muridnya yang mengalami stunting sudah menyantap makanan yang cukup bergizi saban hari. “Saya jengkel kenapa ini bisa terjadi,” kata Sulastri.

Jumat (26/1/2018), Warsilah duduk di teras rumah. Rafa Azka Putra, anaknya yang baru berumur 19 bulan tersembunyi di balik jarit di pangkuan. Tingginya hanya 40 sentimeter, tidak lebih tinggi daripada paha ibunya. “Saya tidak mengerti, kenapa anak saya bertumbuh pendek, dari awal lahir normal,” ujar ibu dua orang anak itu.

Sulungnya yang telah menginjak kelas tiga SMP tidak stunting, padahal asupan makanannya persis seperti Rafa. Daslan, suami Warsilah adalah kuli batu. Hari itu dia libur bekerja dan punya waktu cukup luang untuk menjelaskan berbagai jenis nutrisi yang dia berikan kepada Rafa. “Minyak ikan, makan juga lancar, bila enggan makan biasanya diberikan susu sambung,” kata Daslan.

Makanan itu tak banyak membantu. Selama delapan bulan, Rafa tidak tambah tinggi. Daslan dan Warsilah tak habis pikir. “Saya dan istri saya juga heran, kenapa seperti ini, sedih melihat anak saya tidak berkembang,” ujar dia.

Kendati bertubuh mungil, Rafa tetap aktif dalam pangkuan sang ibu. Beberapa kali dirinya berlarian keluar masuk rumah tanpa lantai keramik yang dindinnya berupa susunan bata tanpa diplester. “Rafa aktif, jarang panas,” tutur Daslan.

Persepsi Keliru
Rasa heran yang menghinggapi benak Warsilah dan Daslan bisa jadi karena persoalan pemahaman. Nutrisionis Puskesmas Sentolo II Riyanta mengatakan, ada persepsi yang keliru mengenai kecukupan gizi anak. Di Tuksono, masih banyak penduduk yang menggangap susu formula dan makanan lainnya telah mencukupi kebutuhan nutrisi sang buah hati. “Mereka mampu membeli makanan dan susu formula, padahal bayi lebih membutuhkan ASI eksklusif.”

Menurut Riyanta, anak-anak yang masih membutuhkan ASI telah diperkenalkan dengan makanan yang memiliki bahan perasa yang kuat. Anak-anak yang telanjur mengenal rasa manis dan asin sebelum waktunya kemudian malas menyantap makanan yang bergizi karena rasanya terlalu tawar. “Bagaimana mereka mau menelan ASI kalau sudah kenal yang terlalu manis. Ini yang menyebabkan gizi buruk,” kata dia.