Desa Wisata di Sleman Semakin Diminati Wisatawan Mancanegara

07 Februari 2018 22:20 WIB Irwan A Syambudi Sleman Share :

Dinas Pariwisata Sleman memberikan pelatihan ke sejumlah pengelola desa wisata

 

Harianjogja.com, SLEMAN—Semakin meningkatnya kunjungan wisata di Kabupaten Sleman membuat pemerintah Kabupaten terus berbenah. Untuk mengoptimalkan layanan, Dinas Pariwisata memberikan pelatihan ke sejumlah pengelola desa wisata.

Baca juga : http://m.harianjogja.com/?p=879548">WISATA SLEMAN : Menginap di Homestay Desa Wisata Semakin Nge-trend

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih mengatakan perkembangan desa wisata di Sleman diakuinya cukup pesat. Hal itu terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah kunjungan baik dari wisatawan lokal maupun mancanegera ke sejumlah desa wisata.

"Contohnya kemarin ada dari Rusia sembilan hari [berwisata] di Desa Wisata Brayut," kata dia, Selasa (6/2/2018).

Untuk itu, demi semakin meningkatkan pelayanan kepada wisatawan pihaknya pun rutin melakukan pelatihan kepada pengelola desa wisata. Dari bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Dinas Pariwisata, pihaknya memberikan pelatihan seperti pengelolahan dan penyajian kuliner, serta ketrampilan bahasa asing.

"Kami berikan pelatihan kuliner dan juga ketrampilan bahasa asing kepada pengelola desa wisata," katanya.

Sementara itu, Ketua Desa Wisata Brayut, Aloysius Sudarmadi menyambut baik adanya pelatihan yang diberikan oleh Dinas Pariwisata. Pasalnya seluruh pengelola butuh peningkatan kemampuan dalam menyediakan layanan bagi wisatawan agar desa wisata dapat terus berkembang.

Terlebih saat ini perkembangan Desa Wisata Brayut cukup menggeliat. Berdasarkan data, tercatat ada sebanyak 200 wisatawan mancanegara seperti Rusia, Jepang dan negera Asia lainnya yang berkunjung dan menginap di homestay rumah warga sepanjang 2017.

Diakuinya memang untuk wisatawan mancanegara sangat tertarik dengan kearifan lokal. "Desa wisata basisnya aktifitas. Tidak hanya tidur tapi kita kenalkan snack tradisional, kenduri, maksud, tujuan, dan filosofi itu," katanya.

Selain itu wisatawan juga diajak membajak sawah, menanam padi, permainan tradisional, menangkap ikan, dan belajar membuat legondo makanan khas Brayut. Dia berharap dengan paket wisata tersebut dapat semakin menjaga kerifan lokal.

“Paket wisata tersebut adalah sebagai upaya menjaga kearifan lokal yang dikemas menjadi daya tarik wisata,” kata dia.

Aloysius menambahkan, rata-rata wisatawan menginap di Brayut minimal durasinya tiga hari. Hal tersebut karena ada 10 item wisata yang bisa diselesaikan.

Contohnya belajar membatik, gamelan, tari, permainan tradisional, membuat jajanan, atraksi tangkap ikan, pertanian, belajar kuda lumping, kerajinan janur, membuat kupat, membuat keris dan lain sebagainya.