Siswa Dari 6 Sekolah di Gunungkidul Enggan Isi PDSS

18 Februari 2018 18:20 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Keterbatasan ekonomi masih menjadi alasan bagi siswa memilih bekerja

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Tidak semua sekolah di Gunungkidul mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) sebagai syarat mengikuti jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Keterbatasan ekonomi masih menjadi alasan bagi siswa memilih bekerja daripada meneruskan pendidikan tinggi.

Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Gunungkidul Sukito mengatakan hingga batas akhir input PDSS masih ada dua SMA dan empat SMK yang tidak memasukkan data PDSS. "Input data PDSS dimulai Sabtu (13/1/2018) sampai Sabtu (10/2/2018) dan ada perpanjangan sampai Selasa (13/2/2018). Hingga tanggal tersebut masih ada beberapa yang tidak input. Mungkin karena sekolah kurang memahami pentingnya input PDSS bagi siswa," ujarnya kepada Harianjogja.com, Kamis (15/2/2018).

Padahal, Sukito mengatakan telah mengimbau sekolah untuk aktif mengisi PDSS sehingga siswa bisa mengikuti proses SNMPTN. Adapun sekolah yang tidak memasukkan data PDSS yaitu, SMA Gotong Royong Semin, SMA PGRI Playen, SMK Giri Handayani Wonosari, SMK Gotong Royong Semin, SMK Ma'arif Playen, SMK Ma'arif Wonosari.

Kepala SMA PGRI Playen Tri Gumono mengatakan sebenarnya sangat mendukung program dari pemerintah itu, tetapi siswa memilih tidak mau mengikuti kesempatan tersebut. "Dari anak-anaknya sendiri tidak mau, kemarin sebenarnya sudah kami tawarkan. Mohon maaf, karena keterbatasan perekonomian anak-anaknya jadi enggan melanjutkan ke perguruan tinggi. Ya walaupun mungkin ada beasiswa, mereka juga bertanya bagaimana biaya hidup, uang kos, bensin, dan lain sebagainya," ujarnya.

Selama menempuh pendidikan di SMA PGRI Playen sendiri, dia mengatakan anak-anak tersebut digratiskan. Terkadang guru juga harus iuran untuk menyumbang kebutuhan siswa, seperti seragam, sepatu, alat tulis, bahkan untuk biaya fotokopi materi. Dia mengatakan kemauan sebagian anak di Gunungkidul untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang SMA saja dinilai masih belum maksimal. Dia harus mencari dan mengajak anak untuk mau sekolah.

Namun untuk Ujian Nasional (UN) mendatang, dia mengatakan ada 13 siswa yang akan mengikuti. Dia juga optimistis seluruh siswa akan lulus seperti tahun-tahun sebelumnya. Terkait dengan kegiatan siswa setelah menyelesaikan pendidikan SMA, dia mengatakan biasanya mereka lebih memilih untuk bekerja daripada kuliah.

Senentara itu di SMAN 1 Tanjungsari, guru Bimbingan Konseling (BK), Supratini berupaya mengajak ratusan anak didiknya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Walaupun ia juga menyadari anak didiknya lebih unggul dibidang nonakademis dibanding akademis.

"Kalau di sini, anak-anaknya lebih unggul di bidang olahraga daripada pelajaran yang lain. Namun, kami coba input saja. Dari tahun ke tahun, jumlah peminat SNMPTN meningkat, walaupun jika dibanding sekolah lain bisa dibilang masih sedikit," ujarnya.

Selain alasan unggul di bidang nonademik, Supratini mengatakan rata-rata siswanya tinggal di kawasan wisata. Karena itu, mereka lebih memilih ikut bekerja di bidang pariwisata dibanding melanjutkan ke perguruan tinggi. “Namun ada juga yang melanjutkan ke perguruan tinggi setelah bekerja,” katanya.