18.300 Sapi di Kulonprogo Wajib Bunting

20 Februari 2018 12:40 WIB Beny Prasetya Kulonprogo Share :

Kesehatan reproduksi sapi jadi ganjalan.

Harianjogja.com, KULONPROGO--Kesehatan reproduksi sapi betina masih menghantui ternak sapi di Kulonprogo. Pasalnya, hal tersebut bakal mempengaruhi Program Upaya Khusus (Upsus) Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) di Kulonprogo.

Sebelumnya, di 2017 Kulonprogo gagal dalam memenuhi target sapi wajib bunting dan melahirkan akibat masalah kesehatan reproduksi sapi. Sementara di 2018 ini Kulonprogo mendapatkan target sebanyak 18.300  indukan sapi wajib bunting di 2018. Bahkan kementrian Pertanian akan membagikan 22.273  inseminasi buatan gratis kepada peternak demi mencapai target tersebut.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Pangan Kulonprogo, Drajat Purbadi mengungkapkan saat ini masih ada potensi kegagalan percapaian target SIWAB di 2018 ini. Kegagalan itu bisa berasal dari penyakit gangguan reproduksi. "Kalau di Kulonprogo kasus gangguan repoduksi yang dominan adalah hipofungsi ovarium," jelasnya, Senin (19/2/2018).

Hipofungsi ovarium terjadi akibat rendahnya kesadaran masyarakat untuk memberikan nutrisi yang mencukupi bagi hewan sapi betina. Hal itu mengakibatkan sapi betina mengalami kondisi tidak birahi selama beberapa siklus, maka setelah disuntikan inseminasi buatan alias sperma beku kepada sapi betina, sapi indukan tidak akan mengalami kebuntingan.

"Terutama hipo itu terjadi karena kualitas ppakan yang diberikan di bawah kebutuhan nutrisi dari sapi," jelasnya.

Inseminator Buatan SIWAB Samigaluh,  Jitu, mengungkapkan hipofungsi ovarium terjadi di daerahnya. Pasalnya setelah menyuntikkan semen beku atau sperma beku kepada sapi betina, ternyata gagal mengalami kehamilan. "Untuk hipofungsi [ovarium] masih menjadi ganjalan," katanya.

Menurut, Jitu, hal itu masih terjadi karena peternak sapi di wilayahnya sudah terlalu tua. Hal itu membuat peternak kurang paham bagaimana memelihara sapi sebagaimana mestinya. Selain itu peternak sapi yang ada juga bukan sepenuhnya bekerja sebagai peternak. "Mayoritas peternak juga bukan peternak penuh, alias peternak kebanyakan hanya sampingan," jelasnya.