Setiap Bulan, 5 Kasus Leptospirosis Muncul di Bantul

22 Februari 2018 15:20 WIB Sekar Langit Nariswari Bantul Share :

Resiko kemunculan penyakit leptospirosis  dinilai lebih tinggi selama musim hujan

Harianjogja.com, BANTUL-Masing-masing lima kasus penyakit leptospirosis muncul selama Januari dan Februri ini di Bantul. Resiko kemunculan penyakit akibat kencing tikus ini dinilai lebih tinggi selama musim hujan, khususnya bagi kalangan petani.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bantul, Pramudi Darmawan mengatakan angka tersebut cukup tinggi untuk mengawali tahun.

"Cukup tinggi, harus lebih waspada apalagi musim hujan begini," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (21/2/2018).

Menurutnya, selama ini jumlah kasus leptospirosis di Bantul memang cukup tinggi karena topografinya sebagai daerah aliran sungai akhir.
Aliran air tersebut yang terbawa arus atau banjir kemudian mengandung kencing tikus sehingga menyerang masyarakat.

Penyakit ini juga kerap menyerang kalangan petani yang banyak berada di Bantul. Ketika sedang beraktivitas di sawah, para petani terserang bakteri ini lewat kulit yang terbuka melalui genangan irigasi.

Cara terbaik mencegah penyakit ini sendiri adalah menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot maupun sarung tangan. Hanya saja, Pramudi mengatakan petani kerap enggan menggunakannnya karena dianggap tidak nyaman dan malah mengganggu aktivitas.

Namun, pemerintah terus berusaha menekan resiko penyebaran penyakit ini dengan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) dan pentingnya alat perlindungan diri tersebut.

Selain irigasi, penyakit ini juga banyak menyabar lewat air sungai. Petani kerap mencuci muka di sungai yang kemungkinan telah terkontaminasi kencing tikus.

Sementara itu, Anto, staf Bidang P2P Dinkes Bantul menerangkan berdasarkan pendataan yang telah dilakukan, ada 100 kasus leptospirosis yang muncul di Bantul selama 2017. Dari jumlah itu, satu penderita positif meninggal dunia akibat penyakit itu.

"Positif meninggal dunia setelah hasil audit," katanya.

Dari data yang sama juga diketahui jika kasus terbanyak muncul di Kecamatan Pundong dengan 16 kasus disusul Kecamatan Bambanglipuro dengan 10 kasus. Data ini diambil dari jumlah laporan yang masuk dari fasiliitas kesehatan apabila ada suspect yang muncul.

Adapun, untuk penanganan kasus yang muncul biasanya diserahkan langsung ke rumah sakit yang bersangkutan. Pemerintah melalui puskesmas menyediakan rapid test untuk suspect penderita leptospirosis.