Diduga karena Doktrin, Seorang Warga Siram Karpet Masjid dengan Cat

06 Maret 2018 17:55 WIB Irwan A Syambudi Sleman Share :

Polres Sleman menggelar reka adegan atau rekonstruksi dalam kasus penodaan Masjid Al Ittihhad

Harianjogja.com, SLEMAN–Polres Sleman menggelar reka adegan atau rekonstruksi dalam kasus penodaan Masjid Al Ittihhad, Dusun Kadipolo, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah. Tersangka dan sejumlah saksi turut dihadirkan.

Dalam rekonstruksi yang dipimpin Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sleman, AKP Rony Are pada Selasa (6/3/2018) pagi dilakukan tertutup untuk umum termasuk media.

Rekonstruksi yang digelar dari pukul 09.30 WIB hingga 10.45 WIB itu dijaga ketat aparat kepolisian. Di sekitar lokasi masjid pun diberi garis polisi sehingga warga hanya dapat melihat dari luar garis polisi.

Diketahui penodaan masjid dilakukan oleh seorang warga Desa Potorono, Kecamatan Bangutapan, Bantul, Suwardi, 25 pada Senin (12/2/2018) lalu. Pelaku melakukan penodaan masjid mencoret karpet dengan cat. Sedikitnya ada tiga karpet berwarna hijau yang disiram cat warna putih. Selain karpet mimbar masjid dan satu mukena juga kena cat.

Atas kejadian itu warga setempat langsung melaporkan ke Polres Sleman. Petugas langsung melakukan penyelidikan kasus tersebut dan berhasil menangkat tersangka di daerah Kecamatan Mlati pada 21 Februari lalu.

Namun saat dikonfirmasi oleh awak media, AKP Rony Are tidak mau memberikan komentar soal kasus tersebut. Sehingga terkait dengan motif dan pasal yang dikenakan terhadap pelaku hingga kini belum diketahui.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Ittihhad, Ardi Sahami mengatakan kejadian itu diketahui saat jamaah akan melakukan salat Magrib. Diduga pelaku melakukan pencoretan karpet dengan cat sekitar pukul 17.00 WIB  atau sebelum Magrib. Sebab saat salat Ashar masih digunakan untuk berjamaah. “Selain itu, juga ada saksi yang melihat pelaku ada di masjid ini sebelum Magrib,” kata dia, Selasa (6/3/2018).

Menurut Ardi karena masjid  itu terbuka umum untuk beribadah,  sehingga adanya orang di tempat ini tidak dicurigai. Warga baru kaget setelah akan salat Magrib mengetahui ada tiga karpet di dalam masjid ada coretan cat putih.

“Menurut saksi, melihat orang itu awalnya duduk di serambi masjid, kemudian ke kamar mandi dan duduk lagi di serambi, tetapi apa yang dilakukan tidak mengetahuinya. Kemudian melaporkan ke saya,” ujarnya.

Setelah menerima laporan tersebut, dia langsung menuju masjid dan tetap melaksanakan salat Magrib seperti biasa. Baru setelah salat mengumumkan kepada warga agar tetap menjaga keamanan dan tidak terpengaruh dengan adanya pencoretan karpet masjid. Namun pihaknya kemudian melaporkan kejadian itu ke Polisi.

Ardi yang mengikuti jalannya rekonstruksi tersebut menjelaskan ada 30 lebih dalam reka ulang penyiraman karpet masjid tersebut. Di akhir rekonstruksi Ardi tetap berpesan kepada warga untuk tetap tenang dan menyerahkan kasus tersebut kepada polisi. “Dari pengakuan tersangka, motifnya karena sudah didoktrin. Namun doktrin apa saya tidak mengetahuinya,” kata dia.