92 Anak Berkebutuhan Khusus di DIY Bakal Ikut UN Manual

10 Maret 2018 05:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Disdikpora DIY memastikan sekitar 92 anak berkebutuhan khusus (ABK) akan mengikuti Ujian Nasional (UN) manual

 
Harianjogja.com, JOGJA - Disdikpora DIY memastikan sekitar 92 anak berkebutuhan khusus (ABK) dari Sekolah Luar Biasa (SLB) maupun sekolah inklusi jenjang SMP dan SMA akan mengikuti Ujian Nasional (UN) manual. Kemendikbud belum siap dengan soal berbasis komputer pada jenis ketunaan tertentu, sehingga seluruh ABK akan mengerjakan UN secara manual.

Kasi Perencanaan Pendidikan Bidang Perencanaan dan Standarisasi Pendidikan Disdikpora DIY, Bahtiar Nurhidayat memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk tidak menyelenggarakan UN berbasis komputer bagi siswa penyandang disabilitas.

Berdasarkan hasil identifkasi ketunaan para ABK yang berada di kelas IX SMP maupun kelas XII SMA dan di SLB, seluruhnya tidak ada yang mengikuti UNBK, melainkan akan mengikuti UN berbasis kertas atau manual.

"Semua ABK akan mengikuti UN berbasis kertas, tidak ada yang basis komputer, itu disesuaikan kebutuhan siswa ABK tersebut," ungkapnya, Jumat (9/3/2018).

Ia menambahkan, Kemendikbud sudah menyiapkan soal bagi UN untuk ABK. Terutama yang tunanetra telah disiapkan soal dengan braille. Sesuai data sekolah yang melaporkan dari jenjang SMP ada 57 ABK dan SMA ada 35 ABK. Pihaknya sudah melaporkan perihal itu ke pusat untuk mendapatkan soal saat pelaksanaan UN.

"Jumlahnya memang tidak terlaku banyak. Semua soal UN untuk ABK dari Jakarta termasuk yang braille, jadi kami tidak mencetak soal," terang dia.

Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji menambahkan, beberapa SLB di DIY ada yang memiliki komputer yang dapat mendukung pelaksanaan UNBK. Utamanya pada tunanetra melalui aplikasi yang dapat memunculkan suara kata dan kalimat. Namun sayangnya, Kemendikbud tidak menyediakan soal jenis itu untuk UNBK ABK. Sehingga ABK ditetapkan UN basis kertas.

"Kalau ABK di SLB bisa baca braille, tetapi yang di sekolah inklusi biasanya belum tentu, sehingga ada yang butuh pendamping khusus setiap ABK," ucapnya.

Adapun soal untuk ABK tunanetra telah dicetak di Jakarta dalam bentuk braille kemudian didistribusikan ke daerah. Cara lain bagi ABK dengan membacakan soal oleh guru pendamping.

Akan tetapi, kendalanya siswa ABK tunanetra akan kesulitan jika memakai metode dibacakan terutama pada Mata Pelajaran Matematika atau IPA yang menggunakan rumus kimia, fisika dan sejenisnya.

Aji menegaskan, memberi kebebasan kepada ABK untuk memilih berbagai metode pengerjaan soal. Pihaknya siap memfasilitasinya dengan baik.

"Biasa anak tunanetra itu menggunakan komputer suara misal A, B, C dan seterusnya, atau satu kata berbunyi tulisan ada. Kalau tuna netra ini pakai UNBK, soal dari pusat yang tidak siap dan belum semua sekolah inklusi yang siap untuk itu. Kalau SLB sudah siap komputernya," terang.