Rekahan Longsor di Kulonprogo Diteliti, Ada Apa?

15 Maret 2018 08:40 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

BPBD pelajari potensi rekahan yang saling terkoneksi.

Harianjogja.com, KULONPROGO--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo saat ini mulai mempelajari rekahan besar di sejumlah kecamatan di Kulonprogo. BPBD memiliki kekhawatiran, titik-titik rekahan tersebut saling berhubungan dan berpotensi menyebabkan longsor yang bersifat sliding dan berdampak fatal.

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Gusdi Hartono menjelaskan, selama ini longsor yang terjadi kerap parsial dan bersifat runtuhan (rock fall). Padahal longsoran bersifat sliding (bersifat luncuran) perlu diwaspadai dan memiliki dampak lebih besar dan berbahaya. Lebih detail, ditemukan sejumlah titik rekahan panjang dan dalam, beberapa di antaranya Dusun Soropati, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap; Dusun Jeruk, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh; Dusun Nogosari, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo; Dusun Gerpule, Desa Banjarharjo dan Dusun Klepu, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang; Dusun Kalinongko, Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih.

Namun, dalam kajian awal Rencana Kontingensi Menoreh yang dimulai pada tahun ini, hanya titik-titik di tiga kecamatan Perbukitan Menoreh yang menjadi prioritas untuk dikaji dan diamati. Titik-titik itu antara lain ada di Dusun Gerpule, Desa Banjarharjo dan Dusun Klepu, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang; Dusun Nogosari, Desa Purwosari, dan Dusun Kluwih, Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo dan salah satu dusun di Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh.

"Jangan sampai salah penanganan dan kami tidak ingin kecolongan. Terlebih lagi, rekahan-rekahan yang ada di wilayah tadi sudah memiliki sejarah [bukan muncul baru-baru saja]," paparnya, Rabu (14/3/2018).

Ia melanjutkan, dari kajian yang mengikutsertakan tim dari akademisi itu, BPBD juga ingin mengetahui, apakah terdapat konektivitas atau saling hubung antar rekahan. Karena apabila memang terbukti ada hubungan saling menyambung antar rekahan di wilayah satu dengan lainnya, dipastikan ada ancaman yang lebih besar ketimbang longsor yang selama ini terjadi. Kondisi rekahan tersebut semakin mengkhawatirkan mengingat Perbukitan Menoreh terdiri dari komposisi batuan lapuk.

Harapannya, kajian akan memunculkan rekomendasi, langkah yang harus dilakukan atau ditindaklanjuti oleh segenap pihak, berdasarkan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

"Atau perlunya langkah lain seperi sosialisasi kepada masyarakat hingga perencanaan relokasi," kata dia.

Tanda Alam

Gusdi meminta masyarakat tetap peka terhadap tanda-tanda alam, sembari memerhatikan sistem peringatan dini bencana yang terpasang di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Hal itu bertujuan untuk menekan risiko bencana.

Pada 2017, tercatat ada 995 titik bencana, mayoritas di antaranya bencana tanah longsor. Sedangkan pada 2018, hingga 12 Maret terdata delapan tanah longsor, dua pergerakan tanah, satu pohon tumbang.
"Kami sudah memasang 90 Early Warning System (EWS) dan beberapa EWS cadangan. Peka terhadap tanda alam diperlukan karena terkadang tidak ada longsor tapi EWS mengeluarkan bunyi, atau sebaliknya," ungkapnya.

Salah satu warga korban longsor Dusun Karanggede, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Rusmini mengatakan, longsor di rumahnya yang terjadi pada Senin (12/3/2018) lalu tersebut sudah dimulai sejak terjadi hujan deras pada sepekan lalu. Ia memilih untuk menyelamatkan diri dan tinggal untuk sementara waktu di rumah kerabat, setelah melihat sejumlah tanda seperti rekahan tanah semakin menganga lebar dan amblas. Sampai saat ini masih terjadi pergerakan tanah, kondisi itu mengancam rumahnya yang ada di atas tebing dan sejumlah rumah yang ada di bawah tebing.

"Saat ini masih tinggal di rumah, tapi kalau hujan terus turun nanti mencari perlindungan ke tempat yang lebih aman, misalnya ke rumah saudara atau ke mana nanti," kata dia.