BANDARA KULONPROGO: Hindari Rebutan, Pemilihan Nomor Rumah Relokasi Magersari dengan Sistem Undian

Calon penghuni rumah Relokasi Khusus Magersari Kedundang menunjukan nomor undian rumah yang didapatkan, Jumat (26/4/2018). - Harian Jogja/Beny Prasetya
28 April 2018 15:37 WIB Beny Prasetya Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kulonprogo melakukan pengundian nomor rumah untuk 43 kepala keluarga (KK) rumah Relokasi Khusus (Rusus) Desa Kedundang, di Balai Desa Kedundang, Kedundang, Temon, Jumat (27/4/2018).

Hal itu dilakukan oleh DPUPKP untuk menghindari permasalahan antar warga karena saling pilih nomor rumah.

"Dilakukan karena dengan sistem lotre atau undian ini mekanismenya yang terbuka dan tidak ada saling tunjuk dan saling pilih," kata Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Kulonprogo, Suparno, Jumat (27/4/2018).

Ia menjelaskan sistem pengundian dilakukan secara dua kali. Undian pertama untuk mendapatkan nomer urut pengambilan lotre. Kemudian pengambilan nomer rumah dilakukan sesuai nomor urut yang didapat dalam undian pertama. "Total ada 43 KK yang lolos, namun ada satu warga yang tidak datang, maka kami wakilkan pengambilannya," katanya.

Rumah yang telah memiliki perabotan seperti meja dan kursi serta lemari dan tempat tidur di dua kamar itu rencananya akan diserahterimakan di awal Mei nanti. Begitu juga dengan fasilitas jaringan listrik dan air bersih juga telah terpasang akan mulai dibuka segelnya saat pemberian kunci. Rencananya, serah terima kunci rumah akan dilakukan pada awal Mei 2018 atau sebelum memasuki bulan puasa.

"Dimungkinkan Bupati Kulonprogo sendiri yang akan menyerahkan langsung kunci rumah kepada warga. Dan sebelum itu akan dibuatkan Surat Keputusan (SK) Bupati untuk penghuniannya," kata Suparno.

Turut Diungkapkan, Suparno bahwa sebelumnya ada tiga KK yang tidak gugur dalam tahap verifikasi dan klarifikasi data. Yakni ketiga KK yang tidak hadir dan menolak verifikasi data, satu KK tidak datang, serta satu KK yang termasuk golongan ekonomi mampu serta sudah pindah ke hunian pribadi di Pengasih.

"Relokasi magersari hanya diperuntukkan bagi warga terdampak bandara yang golongan ekonominya tidak mampu untuk membangun hunian pengganti," kata Suparno.

Calon Penghuni Rusus Kedundang, Titin Supriyanti mengaku berkas yang ia serahkan tidak dapat diterima oleh Tim Verifikasi. Hal tersebut terjadi karena nama KK yang mengajukan ialah suaminya. "Suami saya meninggalkan saya ke Kalimantan, sekarang saya menjadi kepala keluarga," katanya.

Titin warga terdampak NYIA asal Dusun Tanggalan, Palihan itu mengungkapkan bersyukur karena dapat menempati rumah Rusus Magersari Kedundang itu. Pasalnya semenjak perobohan rumahnya, dirinya hanya mengontrak di Desa Sindutan bersama tiga anaknya.

"Saya tadi dapat nomor 26, terus dalam rumah juga sudah dapat perabotan, bersyukur, bisa tinggal dirumah tanpa mengontrak," katanya.

Hal senada dikatakan oleh Supriyanti warga Dusun Tanggalan, Palihan yang mengaku tidak dapat membeli rumah setelah pembongkaran rumahnya. Rumah yang dihargai sebesar Rp96 juta itu hanya bisa ia gunakan untuk membayar hutang dan menabung. "Saya dulu cuma numpang rumahnya, jadi tanah tidak dihargai oleh tim Apresial," katanya.