Potensi Air Banyusoco 200 Liter per Detik, Terbuang Sia-Sia ke Sungai
Lebih dari 20 sumber air di Banyusoco, Gunungkidul, mengalir ke Kali Oya. Tujuh titik memiliki debit hingga 200 liter per detik.
Ilustrasi kemarau di ladang pertanian/Bisnis Indonesia-Rachman
Harianjogja.com, BANTUL--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mulai memetakan daerah rawan kekeringan pada musim kemarau di tahun ini. Hasilnya, desa-desa di enam kecamatan dinyatakan sebagai daerah rawan.
Kecamatan ini meliputi Dlingo, Imogiri, Pleret, Pajangan, Pundong dan sebagian desa di Kecamatan Pandak. Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto mengatakan untuk memastikan datangnya musim kemarau, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan BMKG DIY. Saat ini, baru memasuki masa transisi dari musim penghujang ke kemarau.
“Untuk persiapan kemarau, kami sudah memetakan dan ada enam kecamatan yang masuk ke zona rawan kekeringan,” katanya, akhir pekan lalu.
Menurut dia, guna mengantisipasi masalah krisis air, BPBD sudah melakukan beberapa persiapan. Untuk jangka pendek, Dwi mengaku sudah menyiapkan program penyaluran air bersih dengan total dana sekitar Rp74 juta yang dipersiapkan untuk memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat di daerah rawan.
Untuk jangka panjang, BPBD akan bekerja sama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Bantul untuk menggalakkan program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas) melalui pembuatan sumur bor. Meski demikian, pelaksanaan program ini tidak bisa serta merta langsung dilaksanakan karena harus melalui kajian.
Menurut dia, kajian penting dilakukan untuk mengetahui titik sumber yang potensial sehingga saat diangkat debit air yang dimiliki dapat mencukupi kebutuhan masyarakat. “Jangan sampai saat dibor ternyata airnya tidak ada. Jadi harus dilakukan kajian dengan benar sehingga sumber air yang ada dapat benar-benar mencukupi kebutuhan air bagi warga,” katanya.
Camat Dlingo Jati Bayu Broto mengatakan di daerahnya masuk dalam wilayah yang rawan kekeringan saat musim kemarau. Menurut dia, ada beberapa desa yang masuk kategori rawan seperti di Mangungan dan Munthuk. “Untuk kekeringan terparah ada di tiga dusun, yakni Dusun Cempluk [Desa Mangunan ] dan Dusun Seropan 1 dan 2 di Desa Munthuk,” katanya.
Menurut dia, untuk mengatasi masalah air bersih, kecamatan akan berkoordinasi dengan BPBD guna penyaluran bantuan. “Kalau sekarang masih aman karena cadangan air masih mencukupi, tapi nanti kalau sudah memasuki masa kemarau panjang akan ada wilayah yang memerlukan bantuan air bersih,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lebih dari 20 sumber air di Banyusoco, Gunungkidul, mengalir ke Kali Oya. Tujuh titik memiliki debit hingga 200 liter per detik.
Mas Marrel menghadiri pentas jathilan di Hargobinangun, Sleman. Ia mengajak warga menjaga budaya Jogja agar tetap hidup dan diwariskan generasi muda.
Menteri LH menyebut 85.000 hektare kawasan konsesi terbakar dan 335 perusahaan terindikasi memiliki titik api.
Vietnam menang 2-0 atas Thailand pada leg pertama final Piala AFF 2026. Nguyen Hai Long dan Nguyen Quang Hai mencetak gol kemenangan.
Hashim Djojohadikusumo mengingatkan Rusun Manggarai tidak diborong spekulan. Proyek ini menyediakan 3.784 unit hunian bagi MBR.
Pemkot Jogja mendorong UMK batik bergabung dalam koperasi sektor riil untuk memperkuat produksi, pemasaran, pembiayaan, dan branding.