Kebakaran Tembus 153 Kasus di Gunungkidul, Warga Harus Aktif Mencegah
Sebanyak 153 kasus kebakaran terjadi di Gunungkidul hingga September 2026. DPRD meminta warga aktif mencegah kebakaran sejak dini.
Ilustrasi pengelolaan sampah/JIBI
Harianjogja.com, BANTUL – Persoalan sampah menjadi masalah serius yang harus diselesaikan Pemerintah Kabupaten Bantul. Pasalnya volume sampah terus bertambah setiap harinya hingga mencapai ratusan ton.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup Bantul mencatat setiap harinya produksi sampah mencapai 600 ton. Jumlah ini merupakan akumulasi sampah yang dihasilkan oleh seluruh masyarakat di Bumi Projotamansari.
Kepala DLH Bantul Masharun Ghazalie membenarkan jika masalah sampah harus diselesaikan. Menurut dia, jumlah sampah yang dihasilkan sudah besar karena jumlahnya mencapai 600 ton per hari.
“Angka ini muncul karena setiap orang menghasilkan sampah 0,7 kilogram per hari jadi. Jadi kalau diakumulasi keseluruhan, maka sampah yang dihasilkan di bantul setiap harinya mencapai 600 ton,” kata Masharun, Minggu (3/6/2018).
Dia mengungkapkan, penanganan sampah bukan perkara mudah. Terlebih lagi, kata Masharun, dari sisi personel dan alat pengangkut masih kurang karena jumlah petugas kebersihan baru 300 orang dan armada truk pengangkut sampah baru ada 16 unit. “Idealnya untuk petugas ada 600 orang dan truk pengangkut ada 60 unit,” katanya.
Ia menjelaskan, dampak dari kekurangan personel dan sarana prasaran berakibat pada pengangkutan sampah. Masharun mengakui, bahwa pengangkutan butuh waktu lebih dari satu hari. “Dengan kondisi yang ada, maka sampah di Bantul tidak bisa diangkut dalam sehari langsung tuntas,” katanya.
Menurut dia, salah satu solusi mengatasi sampah adalah dengan membuang sampah pada tempatnya sehingga tidak menimbulkan polusi. Oleh karenanya, ia berharap partisipasi dari masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih. “Kami imbau untuk buang sampah pada tempatnya dan nanti akan diambil oleh petugas kebersihan,” ungkapnya.
Ketua Komisi C DPRD Bantul Wildan Nafis berharap agar masalah sampah harus ditangani dengan serius. Pasalnya, selain untuk menjaga kebersihan lingkungan, pemkab juga telah mencanangkan program Bantul Bebas Sampah 2019.
Menurut dia, dengan program ini merupakan komitmen pemkab untuk menjaga kebersihan wilayah Bantul dari masalah sampah. Oleh karenanya, persoalan sampah harus benar-benar ditangani dengan benar sehingga tidak menimbulkan dampak buruk di masyarakat.
“Kami sangat mendukung program Bantul Bebas Sampah 2019. Sebagai buktinya, kami di dewan telah menyetujui penambahan anggaran di DLH dari Rp17 miliar di 2017 meningkat menjadi Rp28,5 miliar di tahun ini,” kata Wildan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 153 kasus kebakaran terjadi di Gunungkidul hingga September 2026. DPRD meminta warga aktif mencegah kebakaran sejak dini.
IHSG melemah 0,88% ke 6.384,73 jelang RDG BI. Simak area support IHSG dan rekomendasi saham BIPI, IRSX, GDST, serta SMRA.
Asita DIY menyebut Kelok 23 berpotensi membuka koridor wisata Bantul-Gunungkidul dan memperpanjang lama tinggal wisatawan di DIY.
Banjir bandang menerjang kompleks perkantoran Bupati Solok. Kantor PUPR, kesehatan, BKD hingga DPRD terdampak, warga juga dievakuasi.
Lebih dari 1.600 karyawan Apple Italia mogok kerja saat peluncuran iPhone 18 Pro. Serikat pekerja menuntut perbaikan kondisi kerja.
Pasar Burung Singosaren Bantul menambah pasaran Paing sejak September 2026 untuk memberi ruang transaksi lebih banyak bagi pedagang dan penghobi.