Meningkatkan Kualitas Pendidik lewat Workshop

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY Muhammad Luthfi Hamid saat mengisi workshop pengembangan profesi pendidikan dan tenaga kependidikan, Mts-Ma Al-Ma'had An Nur Bantul di Pendopo Kompleks Wisata Embung Nglanggeran, Patuk, Sabtu (14/7/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
15 Juli 2018 07:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Guna membangun profesi menuju prestasi, Mts-Ma Al-Ma'had An Nur Bantul mengadakan workshop pengembangan profesi pendidikan dan tenaga kependidikan di Pendopo Kompleks Wisata Embung Nglanggeran, Patuk, Sabtu (14/7/2018).

Kepala Mts-Ma Al-Ma'had An Nur Bantul Subakir mengatakan, workshop yang diikuti seluruh pengajar dan karyawan madrasah berbasis pesantren itu diharapkan mampu memberi manfaat untuk perkembangan sekolah tersebut.

"Semoga acara ini bisa memberi manfaat lebih baik lagi untuk perkembangan madrasah," ucapnya, Sabtu.

Subakir menekankan, tiap warga madrasah harus memiliki rasa saling membangun. Tujuannya, agar kesuksesan dapat diraih bersama-sama.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY Muhammad Luthfi Hamid yang menjadi mengisi workshop tersebut mengatakan, pendidikan berbasis keagamaan seperti pesantren dan madrasah jangan dipandang sebelah mata. Apalagi sampai membuat adanya kasta dan menempatkan madrasah dan pesantren di kelas dua.

"Pesantren dan madrasah itu bukanlah kelas dua, mereka sama dengan sekolah lain, saat ini bahkan sudah menjadi destinasi pendidikan untuk masyarakat luas," jelasnya.

Luthfi menuturkan, jika ada yang mengatakan pesantren adalah kelas kedua, hal itu merupakan perilaku memandang sebelah mata. Padahal, lanjutnya, banyak alumni pesantren menjadi tokoh publik yang disegani. Dia mencontohkan, sejumlah tokoh publik dari lulusan madrasah dan pesantren. "Salah satunya ada Mahfud Md, siapa tidak tahu beliau?" ujar Luthfi.

Namun, Luthfi menekankan perlu adanya pengelolaan pendidikan madrasah dan pesantren dengan baik. Adapun dalam pengelolaan itu dia menjabarkan empat pilar meliputi branding, sistem, komitmen, serta publikasi.

Maksud dari branding adalah bagaimana sekolah mampu membangun keunggulan yang ditawarkan tiap sekolah agar dikenal masyarakat. "Pesantren Gontor branding-nya bahasa, jadi masyarakat memilih ke sana [Gontor] agar paham berbahasa, kalau sekolah ini apa? Nah, itu yang harus ditekankan," jelasnya.

Kemudian, pilar sistem yang meliputi keuangan, kinerja, dan sistem kurikulum itu diperlukan supaya ada keberimbangan dalam pengelolaan sekolah. "Untuk pilar komitmen yang saya tekankan adalah bagaimana komitmen para guru yang mau mengajar setulus hati kepada siswanya," kata Luthfi.

Sementara itu, untuk pilar terakhir yakni publikasi adalah bagaimana sekolah tidak hanya memiliki potensi semata, tetapi perlu adanya pengakuan dari masyarakat dan salah satunya degan melakukan publikasi. "Kalau punya potensi yang bagus ya harus dipublikasikan biar masyarakat tahu keunggulannya," kata Luthfi.