Produksi Perikanan Tangkap di Kulonprogo Masih Rendah

Sejumlah nelayan menghitung hasil tangkapan bersama pengepul ikan di Pantai Congot, Kamis (4/10/2018). - Harian Jogja/Uli Febriarni
30 Oktober 2018 13:15 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Jumlah realisasi produksi perikanan tangkap di Kulonprogo pada Januari-September 2018 masih rendah. Tercatat angka produksi sebesar 983,382 ton atau 40,49% dari target 2.424 ton.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo, Sudarna, beralasan rendahnya jumlah tangkapan dikarenakan siklus yang umum terjadi. Diperkirakan jumlah realisasi tangkapan akan kembali meningkat pada Oktober 2018.

Ia menjelaskan, produksi paling rendah terjadi pada triwulan kedua atau sekitar April - Juni 2018, yaitu 253,761 ton [69,82% dari target awal 363,450 ton]. Diduga hal itu karena gelombang tinggi dan tidak musim migrasi ikan.

"Dalam rangka upaya meningkatkan hasil tangkapan ikan, DKP sudah memberikan bantuan sarana dan prasana alat tangkap, berupa perahu, mesin motor tempel, jaring, pengadaan baju pelampung kepada nelayan. Kami minta nelayan mengoptimalkan bantuan untuk mendapatkan hasil tangkapan maksimal," ujarnya, Selasa (30/10/2018).

Dia mencontohkan tahun ini bantuan sarana dan prasarana alat tangkap diberikan kepada empat kelompok usaha bersama (KUB), antara lain KUB Ngudi Mulyo Temon, KUB Dadi Mulyo Temon, KUB Manunggal Bahari Karangwuni dan KUB Ngudi Rejeki.

Selain dalam bentuk barang, DKP Kulonprogo juga membekali nelayan dengan berbagai pelatihan membuat jaring, navigasi, keterampilan memperbaiki mesin PMT. Sehingga sewaktu-waktu, ilmu atau keterampilan mereka dapat dimanfaatkan. Pelatihan ini bertujuan agar nelayan semakin profesional.

Seorang nelayan Pantai Trisik, Dwi Surya, mengatakan hasil tangkapan ikan mulai meningkat sejak akhir Agustus 2018. Menurut dia, musim ikan dimulai pada September dan akan mencapai puncaknya pada November dan Desember 2018.