Halaqah Kebangsaan untuk Kemajuan & Persatuan Bangsa

Gatot Eddy Pramono (kiri) dan Prof. Abdul Munir Mulkhan (kanan) berfoto bersama. - IST
22 November 2018 21:10 WIB Laila Rochmatin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL -- Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar Halaqah Kebangsaan bertajuk Menuju Indonesia Berkemajuan. Acara yang bertempat di Sportorium UMY tersebut terselenggara atas kerja sama UMY dengan PP Muhammadiyah.

Berlangsung dari Rabu (21-22/11-2018) halaqah tersebut secara resmi dibuka Agung Supriyanto, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY. Berbagai tokoh dihadirkan sebagai pembicara, di antaranya Jend (Purn.) Wiranto (Menko Polhukam), Prof. M. Nasir (Menristekdikti), Prof. Muhajir Effendi (Mendikbud), Jend. (Pol.) M. Tito Kanavian (Kapolri), Gunawan Budiyanto (Rektor UMY), Prof. Achmad Nurmandi (Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Internasional UMY), Prof. Abdul Munir Mulkan (Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta), dan Zuly Qodir (sosiolog UMY).

Wiranto mengatakan saat ini Indonesia mesti belajar dari sejarah. Indonesia didirikan oleh berbagai tokoh dengan latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan di antara mereka tidak menjadi penghalang untuk bersatu. Seluruh elemen masyarakat kala itu bersatu untuk mewujudkan kemerdekaan.

Wiranto menambahkan banyak tokoh Muhammadiyah yang terlibat dalam perjuangan tersebut. “Banyak sekali tokoh Muhammadiyah yang terlibat dalam proses pembentukan NKRI, kita harus berlajar dari situ,” tegas Menkopolhukan.

Dalam acara tersebut ada beberapa tema yang dibahasa. Pada sesi pertama dibahas Pendidikan Tinggi yang Berkemajuan dalam Era Revolusi Tekhnologi. Sesi kedua mengusung tema Peningkatan Kualitas Pendidikan Dasar dan Menengah bagi Generasi Milenial, dan sesi ketiga Penegakan Hukum: Pemberantasan Kriminalitas, Terorisme, Korupsi, dan Narkoba.


Gatot Eddy Pramono, Arsena Kapolri yang mewakili Kapolri mengatakan ada banyak sekali faktor yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangasa Indonesia, yakni faktor internal dan eksternal. Persoalan-persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan cara mengidentifikasi tidak hanya persamaan dalam masyarakat melainkan juga perbedaannya. Lalu dari hasil identifikasi tersebut harus lebih banyak ditonjolkan persamaan.

Menurut Gatot, perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat memang sangat berpotensi menjadi penyebab perpecahan. “Di negara-negara Timur Tengah yang saat ini terjadi perang saudara masyarakatnya hanya terdiri paling tidak tujuh suku, mereka bisa konflik. Apalagi di Indonesia, jadi potensinya lebih."

Terkait berita bohong atau hoaks, menurut Gatot, apabila menerima suatu informasi baru masyarakat cenderung langsung ingin menyebarkan tanpa memverifikasi kevalidannya.

“Kalau itu hoaks, jangan disebar. Kalau informasi tersebut pun itu benar, tetapi jika disebar kurang bermanfaat bagi orang lain lebih baik jangan disebar. Lebih baik disimpan aja,” kata Gatot.

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Munir Mulkan juga menyampaikan Muhammadiyah sebagai suatu gerakan dirancang sebagai penumbuh kebangsaan berbasis kemanusiaan bebas kriminalitas, narkoba, korupsi, apalagi terorisme.

“Jika ada warga dari gerakan ini yang terpapar terorisme, itu adalah kecelakan,” ungkap Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta itu.