Selama 2018, Kunjungan Wisatawan ke Desa Wisata Stabil

Suasana di Desa Wisata Pentingsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Minggu (6/1/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
06 Januari 2019 21:15 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Selama 2018 khususnya saat libur Natal dan Tahun Baru 2019 angka kunjungan wisata di beberapa desa wisata cukup stabil. Saat ini, sejumlah desa wisata lebih mengejar peningkatan kualitas dibanding jumlah kunjungan.

Ketua Forum Komunikasi (Forkom) Desa Wisata Sleman yang juga pengelola Desa Wisata Pentingsari, Doto Yogantoro, mengatakan beberapa desa wisata yang memanfaatkan outbound dari grup sekolah relatif stabil kunjungannya, seperti angka kunjungan di Desa Wisata Pentingsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan.

"Selama tiga tahun terakhir angka kunjungan ke Desa Wisata Pentingsari relatif stabil, berkisar di angka 25.000 wisatawan per tahun," kata Doto saat ditemui Harian Jogja, Minggu (6/1/2019). pada 2018 jumlah kunjungan per bulan relatif stabil pada angka 2.500 kunjungan.

Di Desa Wisata Pentingsari pengunjung ditawarkan untuk menikmati berbagai wahana seperti outbound, perkemahan serta live in berbaur dengan masyarakat menikmati suasana perdesaan. Rata-rata pengunjungnya berasal dari sekolah-sekolah baik dari SD hingga SMA.

Menurut Doto pada libur Natal dan Tahun Baru 2019, tidak ada peningkatan jumlah wisatawan yang begitu signifikan. "Biasanya wisatawan berkunjung ke sini [Desa Wiasata Pentingsari] justru pada hari biasa, bukan saat liburan," ujar Doto. Di Desa Wisata Pentingsari ditawarkan juga homestay bagi wisatawan yang ingin menginap.

Doto mengaku pihaknya lebih mengutamakan peningkatan kualitas dibanding mengejar target jumlah kunjungan. Begitu juga di tahun ini, yang ia tekankan pada Desa Wisata Pentingsari yaitu peningkatan kualitas homestay agar sesuai standar.

Desa Wisata Pentingsari mulai dikembangkan pada 2008. Kini Desa Wisata Pentingsari sudah masuk pada klasifikasi desa wisata mandiri berdaya saing. Pada 2018 diadakan klasifikasi desa wisata dari Dinas Pariwisata Sleman. "Dari yang sebelumnya hanya desa wisata mandiri, kini jadi desa wisata mandiri berdaya saing. Di Sleman hanya dua yang sudah masuk pada klasifikasi desa wisata mandiri berdaya saing, yaitu Desa Wisata Pentingsari dan Desa Wisata Pulesari," kata Doto.

Pengelola Desa Wisata Srowulan, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Gatot Pramana Putra, mengatakan di desa wisata yang dia kelola, musim liburan malah berdampak pada kunjungan wisatawan. "Ada kenaikan sekitar 45 persen dari hari biasanya," kata Gatot, Minggu.

Desa Wisata Srowulan menawarkan berbagai wahana wisata seperti outbound, berkunjung ke kebun salak, dan terdapat juga Pasar Srowulan sebagai peninggalan sejarah zaman Belanda. Gatot mengatakan rata-rata tiap pekannya jumlah kunjungan sampai 200 orang.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih, mengatakan dalam menunjang peningkatan kualitas desa wisata pihaknya tiap dua tahun sekali melakukan klasifikasi desa wisata. Terakhir di 2018, ada 31 desa wisata yang ada di Sleman. Selain desa wisata rintisan, ada desa wisata yang masuk pada klasifikasi tumbuh 10 desa wisata, berkembang ada 12 desa wisata, mandiri tujuh desa wisata, lalu ada juga dua desa wisata mandiri berdaya saing.

Selain itu ada juga 16 desa wisata rintisan yang sudah diseleksi oleh Dinas Pariwisata Sleman. "Pada proses klasifikasi itu kami seleksi, potensinya, atraksi, kunjungan wisatanya harus ada, juga pemberdayaan masyarakat. Kalau sudah bisa jadi desa wisata akan kami beri surat keputusan," kata Sudarningsih.