Revolusi Industri 4.0, Praktisi PR Dituntut Perbaiki Kualitas Rilis

Pimpinan Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono memberikan materi saat Talk Show and PR Practice di Sofia Boutique Residence, Sabtu (5/1/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
08 Januari 2019 15:10 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Memasuki era revolusi industri 4.0, para praktisi public relations (PR) dituntut memperbaiki kualitas rilis perusahaan atau instansi tempatnya bekerja. Praktisi PR merupakan ujung tombak sebuah perusahaan atau instansi.

Pimpinan Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono mengungkapkan saat ini masih banyak praktisi PR sebuah perusahaan atau instansi yang ketika mengirimkan rilis ke sebuah media untuk ditayangkan, tetapi belum memperhatikan unsur 5W dan 1H.

"Kini media sangat selektif dalam mempertimbangkan rilis yang bisa dimuat, jika tidak istimewa, pasti tidak dimuat," kata dia saat Talk Show and PR Practice di Sofia Boutique Residence, Sabtu (5/1/2019).

Pria yang telah menjadi wartawan selama 18 tahun ini juga mengatakan, jangan pernah memaksa sebuah media untuk memuat rilis yang dikirimkan. Dijelaskan Anton, setiap pasti mempunyai kebijakan redaksi yang berbeda-beda.

Menurut Anton, pentingnya bagi seorang praktisi PR menjalin relasi yang baik dengan media. Hal tersebut, bisa dimulai dengan hal-hal sederhana.

"Misal, dengan mengucapkan selamat tahun baru kepada wartawan. menciptakan hubungan yang baik dengan media tidak hanya pada kegiatan-kegiatan formal," ucap dia.

Membangun relasi dengan media, kata Anton, bisa juga dilakukan praktisi PR dengan membantu wartawan ketika membutuhkan data dari sebuah perusahaan atau institusi. Tidak bisa dipungkiri, saat ini masih banyak PR yang berbelit-beli ketika dimintai data.

"Di era revolusi industri 4.0, tantangan praktisi PR cukup berat. Kalau dulu hanya berhubungan dengan media cetak, kini dituntut bisa mengatasi informasi tidak benar yang beredar di media sosial," ucap lulusan Magister Komunikasi Universitas Negeri Sebelas Maret ini.

Senior editor sekaligus tim media online Genpi Nasional Ang Tek Khun mengatakan ketika membuat sebuah rilis, selain harus memperhatikan unsur 5W dan 1H, praktisi PR juga harus mampu menunjukkan sesuatu yang menonjol dari rilis tersebut dan fokus untuk menjelaskan.

"Istilahnya rilis tersebut harus ada unsur wow, dan akan lebih bagus jika diberikan opsi ketika mengirimkan rilis ke media, dan biarkan dipilih," ujarnya.

Dalam mengelola media sosial sebuah perusahaan, praktisi PR juga harus bisa memberikan konten yang menarik dan membuat penasaran. Saat ini, hampir setiap orang menghabiskan sekitar tiga jam sehari untuk mencari informasi dan hiburan di media sosial.

"Yang paling penting, jangan membeli followers untuk akun media sosial perusahaan, karena percuma jika followers banyak, namun tidak ada interaksi," ujarnya.

Acara yang diselenggarakan oleh Cornellia & Co ini dimulai sejak pukul 14.00 WIB dan dihadiri puluhan praktisi PR, humas, dan marketing communications dari berbagai perusahaan dan instansi.