Seluruh Bangunan Anyar di Kotabaru Harus Sediakan Lahan Parkir

PKL di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Jogja, Minggu (20/1/2019). - Harian Jogja - Nugroho Nurcahyo
23 Januari 2019 16:00 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penataan kawasan Kotabaru untuk menampilkan wajah Indies terus dilakukan. Tahun ini, penataan menyentuh kawasan pedestrian di Jalan Sudirman baik sisi timur maupun sisi barat. Ke depan, penataan Kotabaru akan terintegrasi dengan penataan Stadion Kridosono dan Stasiun Lempuyangan. Seluruh bangunan anyar wajib menyediakan lahan parkir yang bisa diakses publik.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan Kotabaru ditata secara bertahap sejak 2018 hingga 2021. Kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai kawasan heritage sehingga perlu adanya pedoman pelestarian kawasan budaya. Dari sisi filosofi tata kota tidak akan berubah. Kotabaru tetap akan menjadi lokasi yang eksotis bernuansa Indies.

Istilah Indies mengacu pada kebudayaan, termasuk arsitektur, semasa kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Pada masa kolonial, Kotabaru menjadi permukiman masyarakat Eropa. Peninggalan masa lalu itu, seperti bangunan-bangunan berarsitektur Indies, masih awet sampai sekarang dan akan dijadikan destinasi wisata alternatif.

“Ini juga untuk mempertahankan tata kota saat awal kota ini dibentuk. Meskipun nanti ada penambahan fungsi, public space yang disediakan akan mendukung keberadaan kawasan indies,” kata Heroe kepada Harian Jogja, Selasa (22/1/2019).

Tahun ini penataan dilaukan di jalur pedestrian di Jalan Sudirman. Kelak, pengembangan Stasiun Lempuyangan juga harus menyesuaikan dengan penataan sekitar yang bercorak Indies.

Bangunan di kawasan Kotabaru juga wajib menyediakan lahan parkir yang bisa diakses khalayaka. “Seluruh bangunan baru juga harus menyediakan lahan parkir yang juga bisa diakses publik. Sekitar 25% bisa digunakan untuk umum," katanya.

Pemerintah Kota Jogja masih mengincar lahan parkir baru yang akan dibuat. Setidaknya ada tiga hingga lima titik lokasi yang akan dijadikan lahan parkir baru. Seperti di dekat Malioboro, Tugu Pal Putih hingga Stadion Kridosono. Saat ini, pilihan-pilihan itu masih dijajaki.

“Kalau mengembangkan kawasan pedestarian, ketersediaan parkir harus ada. Ini yang sedang kami upayakan agar tidak menimbulkan kemacetan. Hal itu sejalan dengan jargon RTRW Jogja sebagai lokasi yang ngangeni,” katanya.