Advertisement
Hampir Separuh Pustu di Bantul Rusak, Ancam Layanan Kesehatan
Pengendara melintas di depan Pustu Triwidadi, Pajangan, Bantul, Senin (19/1 - 2026) yang tak lagi beroperasi. Dinkes Bantul menyebut sedikitnya 24 dari 53 Pustu di wilayahnya tak lagi membuka layanan lantaran kondisi fisik bangunan rusak.
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Akses layanan kesehatan dasar di tingkat desa menghadapi tantangan serius. Di Kabupaten Bantul, sebanyak 24 bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) kini tak lagi beroperasi karena rusak, membuat hampir separuh fasilitas layanan kesehatan terdekat warga tidak dapat difungsikan.
Dari total 53 bangunan Pustu yang ada di Bantul, kerusakan fisik membuat sebagian besar tidak lagi melayani masyarakat. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Anugerah Wiendyasari, menyampaikan seluruh bangunan tersebut berstatus milik Pemerintah Daerah. Namun, kondisi fisik yang tidak layak membuat fasilitas itu tak bisa digunakan.
Advertisement
“Bangunannya rusak sehingga tidak bisa digunakan, dan sampai sekarang belum ada dana untuk rehabilitasi,” jelasnya, Senin (19/1/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Tri Widiyantara, menjelaskan secara kewilayahan tidak semua desa di Bantul wajib memiliki Pustu. Dari sekitar 75 desa, hanya sekitar 49 desa yang idealnya memiliki Pustu karena sebagian wilayah telah terlayani oleh puskesmas induk.
BACA JUGA
Meski demikian, Agus mengakui tidak semua Pustu yang saat ini tersedia dapat berfungsi optimal. Padahal, kebijakan ideal dari pemerintah pusat menargetkan setiap desa memiliki satu Pustu sebagai layanan kesehatan terdekat bagi masyarakat.
“Realisasinya di lapangan masih terkendala keterbatasan anggaran. Untuk sementara, kami memprioritaskan penghidupan kembali Pustu di wilayah dengan angka kunjungan masyarakat yang tinggi,” ujarnya.
Terkait rencana perbaikan, Agus menyebut Dinkes Bantul masih bergantung pada dukungan dana dari pemerintah pusat. Hingga kini, belum ada kepastian alokasi anggaran rehabilitasi Pustu untuk tahun 2026.
“Untuk pembangunan fisik, kami bergantung pada dana pusat. Sayangnya, sampai sekarang belum ada informasi anggaran rehabilitasi Pustu untuk 2026, sehingga kemungkinan tahun depan nihil pembangunan baru,” katanya.
Kondisi tersebut membuat sebagian wilayah harus mengandalkan puskesmas induk yang jaraknya lebih jauh, terutama bagi warga di kawasan pinggiran desa. Situasi ini mendorong Dinkes Bantul memetakan ulang prioritas layanan, sembari menunggu kepastian pendanaan agar Pustu yang rusak dapat kembali menjadi garda terdepan layanan kesehatan masyarakat.
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Museum Iptek Hainan Dibuka, Tawarkan Wisata Sains Imersif
Advertisement
Berita Populer
- Cuaca Ekstrem Rusak 137 Rumah di Sleman, Kerugian Capai Rp261,9 Juta
- Aksi Pencurian di Baciro Gagal, Warga dan Polisi Tempuh Jalur Mediasi
- BMKG Ingatkan Hujan Lebat Masih Mengintai DIY hingga 21 Januari 2026
- Libur Panjang Januari, Pantai Glagah Dibanjiri Wisatawan dari Jateng
- Ancaman Longsor Bayangi SDN Kokap, Rekahan Tanah Makin Melebar
Advertisement
Advertisement




