UMKM Incar Peluang Bandara

eorang perajin menunjukkan salah satu hasil kerajinan pandan duri kering di raung pamer di Dusun Kemukus, Desa Tanjungharjo, Kecamatan Nanggulan, Selasa (11/12/2018). - Harian Jogja/Uli Febriarni
23 Januari 2019 22:00 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kulonprogo mempersiapkan peningkatan kualitas produk UMKM lokal agar bisa bersaing dan memanfaatkan peluang keberadaan New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Kepala Diskop-UMKM Kulonprogo Sri Harmintarti menegaskan kantornya masih dalam proses persiapan agar produk-produk lokal UMKM bisa dipasarkan dengan adanya NYIA. Dinasnya siap bekerja sama dengan Angkasa Pura I terkait dengan peluang masuknya beberapa produk lokal tersebut.

“Sudah ada pertemuan dan ada surat dengan Angkasa Pura I agar ada perhatian khusus ke koperasi dan UMKM di Kulonprogo,” paparnya, Rabu (23/1/2019). Diskop UMKM masih mempersiapkan berbagai ketentuan dan detail yang dibuat AP I apabila produk lokal tersebut bisa dipasarkan.

Menurut Sri, sebelum dipasarkan, produk UMKM akan terlebih dahulu dipersiapkan kualitasnya dengan standar premium. Selain pada UMKM yang bisa dipasarkan di bandara, Diskop-UMKM juga berharap pelaku UMKM di lokasi sekitar bandara bisa menangkap peluang yang sama. Sampai saat ini di Kulonprogo ada 35.472 UMKM.

Pelaku UMKM di Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, yang bergerak di bidang kerajinan bambu, Sumardi, mengatakan tahun ini dirinya mendapat bantuan dari Kementerian Perindustrian RI untuk membuat sentra produksi bambu.

Nantinya, produk bambu tersebut dipersiapkan untuk memasarkannya di bandara. “Saya sudah memproduksi kerajinan cenderamata dari bambu sejak 2016 tapi belum dipasarkan. Dipersiapkan nanti memasarkannya saat bandara sudah jadi,” ungkapnya.